---
id: o9lxmUs-1zS1
cluster_id: b58hwjW9vWlN
title: Amazon PHK 30.000 Karyawan Demi AI! Insiyur Berontak Minta Pajak dan Energi
  Hijau
slug: amazon-phk-30-000-karyawan-demi-ai-insiyur-berontak-minta-pajak-dan-energi-hijau
excerpt: Gila, Amazon rela gebuk 30.000 karyawannya demi proyek AI raksasa senilai
  Rp 3.600 triliun! Para insinyur berontak, mendesak walikota Seattle untuk mewajibkan
  perusahaan bayar pajak lebih besar dan pakai energi terbarukan.
category: phk
tags:
- amazon
- phk
- ai
- patrick schloesser
- seattle
source_urls:
- https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-8518892/karyawan-berontak-usai-amazon-phk-30-000-orang-gegara-ai
source_names:
- detikFinance
image_url: https://awsimages.detik.net.id/api/wm/2016/04/19/60f29ccc-d8c1-437d-bc09-91537774c22a_169.jpg?wid=54&w=1200&v=1&t=jpeg
meta_title: Amazon PHK 30.000 Karyawan Demi AI, Insinyur Mengamuk
meta_description: Gigit jari! Amazon pecat 30.000 orang demi proyek AI Rp 3.600 T.
  Para insinyur berontak, minta pajak dan energi terbarukan. Nasib mereka kini amblas
  demi teknologi.
canonical_url: https://berita.media/amazon-phk-30-000-karyawan-demi-ai-insiyur-berontak-minta-pajak-dan-energi-hijau
schema_type: NewsArticle
status: published
created_at: '2026-06-05T14:02:23Z'
published_at: '2026-06-05T14:02:23Z'
---

Ceritanya begini. Amazon, raksasa e-commerce yang katanya pelopor kemudahan, ternyata punya sisi gelap yang bikin geram. Mereka tega membuang 30.000 karyawannya, amblas semua, demi ambisi membangun pusat data kecerdasan buatan alias AI. Ini bukan drama sinetron, ini nyata di Amerika Serikat! detikFinance

Dalam delapan bulan terakhir, perusahaan ini menggelontorkan dana gila-gilaan, sampai US$ 200 miliar atau sekitar Rp 3.609,8 triliun! Uang sebanyak itu demi apa? Demi AI, katanya. Insinyur perangkat lunak di Amazon Web Services, Patrick Schloesser, sendiri yang buka suara. Ia bilang, "Dilaporkan bahwa tahun ini, Amazon menghabiskan US$ 200 miliar untuk modal, sebagian besar dialokasikan untuk pusat data dan AI." Gilanya, investasi triliunan rupiah ini malah dibarengi dengan PHK massal yang diklaim demi efisiensi. Mana ada efisien kalau puluhan ribu orang kehilangan pekerjaan? detikFinance, CNBC

Yang bikin ngelus dada, dari 30.000 karyawan yang di-PHK, salah satunya adalah Patrick Schloesser sendiri, atau setidaknya rekan-rekannya. Ia mengungkap, "Para pemimpin di perusahaan saya telah memberhentikan 30.000 karyawan perusahaan dalam delapan bulan terakhir." Ia menambahkan, "Hal itu menunjukkan kepada saya bahwa perusahaan teknologi besar sangat ingin membangun kapasitas komputasi sebanyak mungkin, secepat mungkin." Nah ini dia! Mereka rakus teknologi sampai lupa nyawa manusianya.

Atas dasar inilah sekelompok insinyur Amazon, termasuk Schloesser, ngamuk datang ke sidang Dewan Kota Seattle. Mereka menyuarakan ketidakpuasan dan penolakan keras terhadap rencana pengembangan pusat AI di kota tersebut. Bayangkan, mereka yang membangun teknologi ini, malah jadi korban. Schloesser, yang sudah bekerja hampir enam tahun di Amazon, tak tinggal diam. Ia mendesak para pejabat Seattle agar pengembang pusat data AI diwajibkan pakai energi terbarukan untuk pasokan daya. Sialnya, selama ini perusahaan seenaknya saja pakai sumber energi yang merusak lingkungan. detikFinance

Dan yang paling menohok, Schloesser juga minta agar Amazon tidak lagi pakai perjanjian kerahasiaan atau perusahaan fiktif saat mengumumkan proyek baru. Ia berteriak lantang, "Anda harus menyediakan pekerjaan yang layak untuk membangun hal-hal ini, dan Anda harus membayar pajak baru yang mendanai pekerjaan kota setiap kali Anda melakukan PHK besar-besaran." Ujung-ujungnya, mereka mau Amazon bertanggung jawab! Ini bukan sekadar tuntutan, ini teriakan dari mereka yang terdzolimi. Mana mungkin perusahaan sebesar Amazon bebas begitu saja mengganyang puluhan ribu pekerjanya tanpa konsekuensi? Detik ini, nasib puluhan ribu karyawan Amazon benar-benar amblas demi AI.

---
**Sumber:** [detikFinance](https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-8518892/karyawan-berontak-usai-amazon-phk-30-000-orang-gegara-ai)
