---
id: WEFMIN9Is9AT
cluster_id: rb-3-BLntZyz
title: 'ANAK DI BAWAH UMUR DIKEPRUPUK: JARI PUTUS DI PAGAR, SEKOLAH MALAH SIKAT HABIS
  KELUARGA KORBAN'
slug: anak-di-bawah-umur-dikeprupuk-jari-putus-di-pagar-sekolah-malah-sikat-habis-keluarga-korban
excerpt: GILA BRO! Budaya bullying di Pati makin menggila, bahkan seorang siswa MTs
  sampai jarinya putus gara-gara dikejar kakak kelas. Parahnya, pihak sekolah malah
  terkesan menutupi dan tak kooperatif sama sekali, bikin keluarga korban geram!
category: bullying
tags:
- bullying
- kekerasan anak
- Pati
- pendidikan
- MTs
- Astuti Foundation
source_urls:
- https://www.seputarmuria.com/astuti-foundation-ada-dugaan-bullying-di-mts-pati-sekolah-dinilai-kurang-kooperatif/
- https://www.detik.com/jateng/berita/d-8600471/ngeri-2-jari-siswa-mts-di-pati-putus-diduga-akibat-bully
source_names:
- Seputar Muria
- detikcom
image_url: https://www.seputarmuria.com/wp-content/uploads/2026/08/IMG_20260802_102933.jpg
meta_title: 'Kasus Bullying di MTs Pati: Jari Siswa Putus, Sekolah Dinilai Tak Kooperatif'
meta_description: Jari tangan siswa MTs di Pati putus diduga akibat bullying. Pihak
  sekolah justru dinilai tidak kooperatif dan membantah insiden tersebut sebagai perundungan.
canonical_url: https://berita.media/anak-di-bawah-umur-dikeprupuk-jari-putus-di-pagar-sekolah-malah-sikat-habis-keluarga-korban
schema_type: NewsArticle
status: published
created_at: '2026-08-02T05:02:47Z'
published_at: '2026-08-02T05:02:47Z'
---

Ini dia nih berita yang bikin darah mendidih, para orang tua wajib waspada! Di Pati, Jawa Tengah, seorang bocah MTs berinisial AF (13) harus menanggung nasib nahas. Tangannya terjepit pagar sekolah sampai dua jarinya putus mengenaskan. Gilanya lagi, ini bukan sekadar kecelakaan, tapi diduga kuat lantaran ulah perundungan dari kakak kelasnya. Kejadian brutal ini terendus publik setelah videonya viral di TikTok, bikin Astuti Foundation angkat bicara. "Memang ada dugaan bullying karena sampai jarinya putus karena kejepit di pagar. Tapi pihak sekolah agak tidak kooperatif," ungkap Padina Mahardikasari dari Astuti Foundation, kepada wartawan. Seputar Muria, detikcom.

Menurut Padina, laporan awal diterima Astuti Foundation pada Jumat (31/7/2026) dari kakak sepupu korban. Sang kakak yang sudah gerah akhirnya terbuka, dan Astuti Foundation pun langsung bergerak mendampingi AF yang terbaring kesakitan di rumah sakit. Awalnya, Dinas Sosial Kabupaten Pati belum tahu menahu soal tragedi ini, tapi Astuti Foundation sigap meneruskannya, alhamdulillah korban juga sudah melapor ke Polresta Pati. Nah ini dia yang bikin meradang, saat mendampingi korban, pihak Astuti menemukan kejanggalan yang bikin geleng-geleng. "Sisa jari yang terputus disuruh menguburkan," kata Padina getir. Yang lebih sadis lagi, pihak sekolah sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya untuk menjenguk korban yang sedang menderita. Seputar Muria.

Kronologis kejadiannya pun semakin mengerikan. AF mengaku dikejar oleh tiga kakak kelas, sontak ia memanjat pagar sekolah untuk menyelamatkan diri. Namun nahas, saat itulah tangannya terjepit pagar, sementara para terduga pelaku hanya diam saja. "Tapi kenapa kok tidak dibuka pagarnya. Sudah tahu kejepit tapi temannya tidak ditolong. Itu kan ada indikasi," sesal Padina. Pernyataan ini tentu saja langsung dibantah mentah oleh pihak sekolah. Kepala MTs, Safi'i, sesumbar kejadian ini murni kecelakaan, bukan bullying sama sekali. "Habis salat duhur itu anak sebelum masuk ke kelas, ada anak-anak, terus ada anak yang naik pagar tangannya kecepit," kilahnya, seolah menutupi boroknya. detikcom.

Sungguh ironis, di tengah tangis pilu AF dan keluarganya, pihak sekolah justru terkesan defensif dan lepas tangan. Penanganan kasus ini sekarang sepenuhnya berada di tangan Polresta Pati, dan Kemenag Pati pun menyatakan prihatin. "Kami dari Kemenag Pati sungguh merasa prihatin kejadian itu terjadi di madrasah tsanawiyah," ujar Ahmad Syaiku. Namun, ia belum bisa berkomentar banyak karena masih menunggu proses kepolisian. Seputar Muria. Kejadian ini sungguh tamparan keras bagi dunia pendidikan kita, khususnya di sekolah berbasis agama yang terkadang sulit ditembus untuk sosialisasi. "Kita sulit sekali untuk menembus sekolah-sekolah yang berbasis agama," keluh Padina. Ia berharap, sekolah tidak lagi tutup mata terhadap kekerasan yang terjadi di lingkungan mereka, demi masa depan generasi penerus yang lebih baik. Seputar Muria.

Keluarga korban pun tak tinggal diam, mereka meminta kasus ini dikawal ketat agar tidak ada lagi korban-korban lain yang mengalami nasib serupa. "Beliau meminta ini dikawal karena memang ini sudah parah sekali. Jangan sampai ada korban-korban lain, karena ini bisa berpengaruh ke masa depan," tegas keluarga korban. Sungguh miris, jari yang putus seharusnya menjadi pengingat agar lebih berhati-hati, tapi dalam kasus ini, justru menjadi simbol kegagalan sistem perlindungan anak di sekolah. Habis sudah, semoga keadilan segera ditegakkan dan sekolah belajar dari tragedi ini!

---
**Sumber:** [Seputar Muria](https://www.seputarmuria.com/astuti-foundation-ada-dugaan-bullying-di-mts-pati-sekolah-dinilai-kurang-kooperatif/) · [detikcom](https://www.detik.com/jateng/berita/d-8600471/ngeri-2-jari-siswa-mts-di-pati-putus-diduga-akibat-bully)
