---
id: 80f2LiWPKQBj
cluster_id: LLudApwVtyjE
title: BI Tahan Bunga Acuan di 5,75 Persen Demi Rupiah Loyo
slug: bi-tahan-bunga-acuan-di-575-persen-demi-rupiah-loyo
excerpt: Keputusan Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di angka 5,75 persen di tengah
  gempuran isu global benar-benar bikin geram. Kebijakan ini jelas demi menahan rupiah
  yang makin lemas, namun dikhawatirkan mencekik pertumbuhan ekonomi rakyat kecil.
category: rupiah
tags:
- Bank Indonesia
- BI Rate
- rupiah
- ekonomi
- kebijakan moneter
source_urls:
- https://20.detik.com/detikupdate/20260828-260828029/bi-tahan-bi-rate-5-75-stabilkan-rupiah-dukung-ekonomi
source_names:
- 20detik
image_url: https://cdnv.detik.com/videoservice/AdminTV/2026/08/28/c49521bd190549e98bfc3091d2d6bb4d-20260828135528-0s.jpg?w=650&q=80
meta_title: BI Tahan Bunga Acuan, Rupiah Loyo Terkendali?
meta_description: Bank Indonesia pertahankan BI-Rate 5,75%. Demi stabilkan rupiah
  atau mencekik ekonomi rakyat? Simak analisis tajamnya!
canonical_url: https://berita.media/bi-tahan-bunga-acuan-di-575-persen-demi-rupiah-loyo
schema_type: NewsArticle
status: published
created_at: '2026-08-29T05:01:28Z'
published_at: '2026-08-29T05:01:28Z'
---

Gila, bro! Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate di angka 5,75% dalam rapat dewan gubernur yang digelar tanggal 18-19 Agustus 2026 lalu. Ini artinya, suku bunga Deposit Facility tetap nangkring di 4,75% dan Lending Facility masih di 6,50%. Keputusan ini diambil dengan dalih memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah yang lagi jungkir balik dihantam gejolak global, terutama gara-gara perang di Timur Tengah. 20detik.

Alhasil, pemerintah seolah menutup mata terhadap kebutuhan ekonomi masyarakat bawah yang butuh suntikan dana segar. Mereka lebih memilih menjaga rupiah agar tidak semakin amblas, meskipun itu berarti mengorbankan potensi pertumbuhan ekonomi yang lebih signifikan. Target inflasi 2,5±1% untuk tahun 2026 dan 2027 memang mulia, tapi bagaimana dengan nasib para pedagang kecil yang kesulitan mendapatkan modal? Yang bikin prihatin, kebijakan ini bisa jadi membuat UMKM makin sulit berkembang karena biaya pinjaman tetap tinggi. 20detik.

Parahnya, keputusan ini seakan mengabaikan realitas di lapangan. Di saat banyak negara mulai melonggarkan kebijakan moneternya untuk mendorong ekonomi pasca-pandemi, Indonesia justru memilih langkah yang terkesan defensif. Menahan suku bunga acuan di level tinggi memang bisa menarik investor asing sementara, tapi efek jangka panjangnya bisa jadi malah menghambat investasi domestik dan konsumsi masyarakat. Celakanya, banyak pengusaha kecil menengah yang terancam gulung tikar karena tidak sanggup menanggung beban bunga bank yang semakin mencekik. 20detik.

Yang bikin geram, Bank Indonesia beralasan kebijakan ini juga untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Tapi, pertumbuhan yang mana yang mereka maksud? Kalau pertumbuhannya hanya dinikmati segelintir konglomerat, itu namanya bukan pertumbuhan yang merata, tapi hanya tarian angka di atas kertas. Bukankah seharusnya kebijakan moneter ini berpihak pada rakyat, bukan sekadar menjaga stabilitas semu di tengah badai krisis global yang makin mengganas? 20detik.

Nah ini dia, ujung-ujungnya Rupiah memang sedikit tertahan agar tidak ambruk lebih parah. Tapi, harga-harga kebutuhan pokok tetap saja melambung tinggi, membuat masyarakat kecil makin menjerit. Habis sudah harapan untuk mendapatkan suntikan modal murah bagi para pelaku usaha. Selesai. Kebijakan ini benar-benar menunjukkan betapa sentralnya isu nilai tukar di mata para pengambil kebijakan, mengalahkan kepentingan mendasar pertumbuhan ekonomi kerakyatan. Mana ada cerita begini berakhir baik.

---
**Sumber:** [20detik](https://20.detik.com/detikupdate/20260828-260828029/bi-tahan-bi-rate-5-75-stabilkan-rupiah-dukung-ekonomi)
