---
id: AozMGYYEduPd
cluster_id: vGGw0wwuXdSB
title: BULIAN HANTAM SISWA SAMPAI TEWAS, SEKOLAH CUMA DIAM SAJA!
slug: bulian-hantam-siswa-sampai-tewas-sekolah-cuma-diam-saja
excerpt: Ternyata 'candaan' dan 'kenakalan biasa' itu bom waktu! Bocah Tangerang Selatan
  kejang lalu tewas dihajar bullyan. Di Jakarta Pusat, korban tersetrum sampai koma
  gara-gara diperintah pegang tiang listrik. Gilanya, semua alarm sudah berteriak,
  tapi pihak sekolah malah tutup mata. detikNews
category: bullying
tags:
- bullying
- kekerasan anak
- pendidikan
- kesehatan mental
- tragedi sekolah
source_urls:
- https://news.detik.com/kolom/d-8536891/bullying-di-sekolah-alarm-yang-tak-boleh-diabaikan
source_names:
- detikNews
image_url: https://awsimages.detik.net.id/api/wm/2023/09/28/ilustrasi-perundungan-atau-bullying-anak_169.jpeg?wid=54&w=1200&v=1&t=jpeg
meta_title: Bullying Brutal Hantui Sekolah, Korban Tewas!
meta_description: Perundungan di sekolah bukan lagi candaan! Siswa tewas, tersetrum,
  trauma berat. Pelaku lolos hukuman, sekolah diam membisu. Alarm ini tak boleh diabaikan!
canonical_url: https://berita.media/bulian-hantam-siswa-sampai-tewas-sekolah-cuma-diam-saja
schema_type: NewsArticle
status: published
created_at: '2026-06-18T23:02:48Z'
published_at: '2026-06-18T23:02:48Z'
---

Gila bro, dengar ini! Bullying di sekolah itu bukan sekadar usil atau bikin ramai dikit, ini sudah jadi pembunuhan karakter yang pelan-pelan menggerogoti nyawa. Kita baru kaget setengah mati kalau sudah ada video viral, laporan polisi jadi tebal, atau paling parah, seorang murid dinyatakan INNALILLAHI WA INNA ILAIHI ROJIUN. Padahal, jauh sebelum tragedi berdarah itu terjadi, sudah banyak sinyal bahaya yang berkedip-kedip merah: anak jadi malas berangkat sekolah karena jiper, ada murid yang tiba-tiba jadi pendiam kayak patung, atau pulang ke rumah dengan muka pucat pasi menahan tangis dan cerita pilu. detikNews

Nah ini dia kronologinya yang bikin emosi meledak-ledak! Belum lama ini, publik digegerkan sama kasus siswa SMP di Tangerang Selatan yang ajal menjemputnya setelah diduga berulang kali jadi bulan-bulanan teman-temannya. Eh, parahnya, di Jakarta Pusat, ada bocah lugu diperintah oleh dua remaja durjana untuk memegang tiang listrik. Alhasil, setrum langsung menyambar, tubuhnya kejang hebat, pingsan, sampai kritis masuk ICU! Belum selesai sampai di situ, di Bandung pun ada murid yang sudah bosan ditendang dan dihajar sesama teman, akhirnya memilih angkat koper dari sekolah karena tak kuat lagi menapakkan kaki di kelas. Mana ada cerita begini berakhir baik. detikNews

Dan bukan main parahnya, isu serupa merambah sampai ke pesantren di Nusa Tenggara Barat, di mana 'tradisi senioritas' ala premanisme malah jadi ajang kekerasan yang berujung luka berat, bahkan merenggut nyawa. Di Bekasi, seorang anak trauma berat sampai nangis sesenggukan gara-gara dipermalukan habis-habisan dan videonya disebar luaskan. Sekolah yang seharusnya jadi rumah kedua, malah berubah jadi neraka tak berujung. Deret fakta mengerikan ini bukan cuma kebetulan, tapi gambaran nyata betapa kekerasan itu dibiarkan tumbuh subur bak rumput liar. detikNews

Gilanya lagi, para ahli bilang ini namanya "normalisasi deviasi." Artinya, perilaku menyimpang yang jelas-jelas melanggar norma dan merusak martabat orang lain itu dibiarkan terjadi terus-menerus sampai jadi hal biasa. Di sekolah, pukulan jadi "bumbu keakraban", ejekan itu "bahan bercanda" doang, penghinaan dijadikan "latihan mental", dan senioritas busuk itu "tradisi turun-temurun". Batasan antara candaan dan kekerasan sengaja dibuat kabur, apalagi kalau guru dan kepala sekolahnya juga ikut diam atau bahkan menikmati status quo yang bobrok ini. detikNews

Psikolog kawakan, Albert Bandura, ngasih tahu kalau anak-anak itu belajar dari apa yang mereka lihat, bukan cuma dari apa yang diajarin. Mereka meniru perilaku yang bikin temannya ditakuti, dipuja, atau bahkan sekadar dapat perhatian. Kalau pelaku bully malah jadi idola baru, ya jelas saja mereka makin semangat nyakitin orang. Malah, kalau pelaku cuma dihukum ringan atau kasusnya diselesaikan "kekeluargaan" tanpa ada efek jera yang jelas, mereka makin yakin kalau jadi preman di sekolah itu untungnya gede, risikonya kecil. Pesan ini dikirim lewat konsekuensi yang mereka lihat pada temannya, bukan cuma pada diri sendiri. detikNews

---
**Sumber:** [detikNews](https://news.detik.com/kolom/d-8536891/bullying-di-sekolah-alarm-yang-tak-boleh-diabaikan)
