---
id: YiN0Tf8pFwsJ
cluster_id: 1xeFExEr2Q-7
title: Demokrasi Cuma Kedok? Rakyat Dikuras Atas Nama Rakyat!
slug: demokrasi-cuma-kedok-rakyat-dikuras-atas-nama-rakyat
excerpt: Gila bro, demokrasi ternyata cuma seni menguliti rakyat secara seremonial,
  begitu kata sejarawan Jerman, Karlheinz Deschner! Rakyat dibohongi, dieksploitasi
  finansial dan ideologis, sementara kekuasaan jadi bancakan elite. Benar-benar bikin
  geleng-geleng!
category: politik
tags:
- demokrasi
- politik
- oligarki
- rakyat
source_urls:
- https://www.kompas.id/artikel/mitos-politik-atas-nama-rakyat
source_names:
- Kompas.id
image_url: https://assetd.kompas.id/MgUybdY-s74FIE3a9ocX9yVwIvM=/1024x576/smart/filters:format(webp):quality(80)/https://cdn-dam.kompas.id/images/2026/07/29/32659eebbe18e1bebc697ac46483aeec-20260728_Opini_Digital_3.jpg
meta_title: 'Demokrasi: Seni Menguliti Rakyat Ala Elite Penguasa'
meta_description: Demokrasi cuma kedok? Rakyat dibohongi dan dieksploitasi demi kepentingan
  elite. Benarkah demokrasi modern adalah oligarki elektoral? Baca analisisnya!
canonical_url: https://berita.media/demokrasi-cuma-kedok-rakyat-dikuras-atas-nama-rakyat
schema_type: NewsArticle
status: published
created_at: '2026-07-30T05:01:39Z'
published_at: '2026-07-30T05:01:39Z'
---

Alah, dengerin nih cerita soal demokrasi yang ternyata cuma kedok! Konon katanya sih seni menguliti rakyat secara seremonial atas nama rakyat, kata si Karlheinz Deschner itu. Ini orang gegap gempita nggempur habis-habisan praktik politik demokrasi, bilang kalau ini cuma topeng buat nutupin nafsu kekuasaan dan manipulasi. Rakyat cuma dijadiin sapi perah, dibohongi dan dikuras dompetnya plus otaknya gara-gara ideologi! Gilanya, dulu katanya rakyat itu yang punya kedaulatan tertinggi, tapi ujung-ujungnya malah disuruh ngasih kuasanya ke parlemen, pemerintah, sama pengadilan. Semua atas nama rakyat, tapi yang menikmati malah segelintir elite! Kompas.id

Nah ini dia yang bikin gemes, padahal idealnya nih, semua wakil rakyat itu harusnya ngaca ke kehendak rakyat, yang asli, bukan cuma omong kosong partai! Setiap keputusan mestinya transparan, bisa ditelusuri lagi jejaknya sampai ke pemilih. Tapi eh, tapi, si Jean-Jacques Rousseau dari jaman baheula juga udah ngingetin soal beda kehendak umum sama kehendak semua orang. Kehendak semua cuma buat kepentingan pribadi dan kelompok doang, nyari enaknya sendiri. Lah kalau kehendak umum itu yang bener-bener buat kebaikan bareng, nyampingin ego kelompok. Sayangnya, dalam demokrasi yang rame sekarang, kebaikan bersama itu malah lahirnya dari tawar-menawar yang nggak jelas, bukan dari ketulusan. Rousseau aja udah skeptis sama demokrasi model wakil rakyat ini, dia bilang rakyat malah jadi asing dari proses politik. Kompas.id

Parahnya lagi, kalau demokrasi model begini diorkestrasi sama kaum oligarki! Ivo Mosley, nih orang juga ikut nyorot, bilang demokrasi perwakilan sekarang itu cuma oligarki elektoral. Rakyat dikasih ritual pemilihan umum yang ujung-ujungnya manipulatif doang, dikasih harapan palsu. Kekuasaan jadi numplek di tangan orang-orang kaya raya. Terus hukum sama aparat negara? Dijadiin alat buat ngontrol rakyat biar nggak berontak sama si elite penguasa itu. Negara dikelola kayak perusahaan, yang penting untung, substansinya entah ke mana. Yang tadinya buat rakyat, malah jadi lahan garapan kaum berduit. Selesai sudah cerita rakyat yang katanya berdaulat! Kompas.id

---
**Sumber:** [Kompas.id](https://www.kompas.id/artikel/mitos-politik-atas-nama-rakyat)
