---
id: _LqlsEifa7U7
cluster_id: H2iDINRwwqeN
title: Demokrasi Dibisniskan! Jualan Kursi Kepala Daerah Habis Rp 27 Miliar
slug: demokrasi-dibisniskan-jualan-kursi-kepala-daerah-habis-rp-27-miliar
excerpt: Gila bener, demokrasi Indonesia kini tak lebih dari arena jualan kekayaan!
  Calon kepala daerah terpaksa rogoh kocek Rp 27 miliar lebih demi satu kursi, ujung-ujungnya
  malah jadi bancakan korupsi. Ini fakta miris yang dirilis LP3ES dan KITLV, bikin
  geleng-geleng kepala!
category: politik
tags:
- biaya politik
- korupsi
- demokrasi
- kepala daerah
- LP3ES
source_urls:
- https://nasional.kompas.com/read/2026/07/20/07550051/menata-ulang-biaya-politik-menyelamatkan-demokrasi?page=all
source_names:
- Kompas.com
image_url: https://asset.kompas.com/crops/KMkHTIr56-fzuCg2k8Gdo06-Se0=/0x55:1600x1122/1200x675/filters:watermark(data/photo/2026/01/30/697c815a5f0b9.png,0,-0,1)/data/photo/2026/07/19/6a5c0961c9279.jpeg
meta_title: Biaya Politik Rp 27 Miliar, Demokrasi Jadi Jualan Kekayaan
meta_description: Demokrasi Indonesia makin mahal! Calon kepala daerah habiskan puluhan
  miliar untuk menang, ujungnya jadi bancakan korupsi. Fakta miris yang harus Anda
  tahu!
canonical_url: https://berita.media/demokrasi-dibisniskan-jualan-kursi-kepala-daerah-habis-rp-27-miliar
schema_type: NewsArticle
status: published
created_at: '2026-07-20T17:00:58Z'
published_at: '2026-07-20T17:00:58Z'
---

Alamakjang! Dengerin nih cerita soal demokrasi kita yang kian hari kian aneh bin ajaib. Kata riset 'The Price of Power' yang bikin mata melotot, para calon kepala daerah itu rata-rata mesti ngeluarin duit segede gaban Rp 27,4 miliar cuma buat menang Pilkada 2024! Bandingkan sama gaji pokoknya yang cuma seuprit, nggak nyampe setengah miliar selama lima tahun jabatan. Parahnya lagi, survei KPK dari tahun-tahun sebelumnya nunjukkin pola yang sama, mau jadi bupati/wali kota butuh Rp 20-30 miliar, gubernur? Bisa tembus Rp 100 miliar! Gilanya, angka segitu belum termasuk ongkos negara buat nyelenggarain pemilu yang konon mau capai Rp 76 triliun buat Pilkada 2024. Kompas.

Nah, dari mana duit sebanyak itu datengnya, coba tebak? Kombinasi maut bro: mulai dari ngumpulin massa segambreng, pasang baliho berjibun di mana-mana, iklan di tipi-tipi, bayar "mahar" ke partai biar diusung, sampai "serangan fajar" yang bikin pemilih luluh lantak. Ujung-ujungnya, yang kepilih bukan yang paling pinter atau punya ide brilian, tapi justru yang punya modal segudang atau punya koneksi sama cukong-cukong gede. Demokrasi yang semestinya jadi ajang adu gagasan, malah berubah jadi lelang jabatan pakai uang. Kompas.

Celakanya, drama "jualan" kekuasaan ini nggak berhenti sampai di situ aja. Coba lihat, sejak awal 2025 sampai pertengahan Juli 2026, udah ada 15 kepala daerah yang baru dilantik eh udah nyasar jadi tersangka korupsi! Belum lagi yang kena operasi tangkap tangan (OTT) KPK di semester pertama 2026, jumlahnya sekitar sepuluh orang. Juru bicara KPK Budi Prasetyo ngakuin sendiri, mereka itu kejeblos korupsi lantaran "tekanan" buat ngembaliin modal kampanye yang udah ngabisin duit rakyat. Jadi, begitu pegang jabatan, langsung deh ngatur proyek sama jual beli jabatan biar balik modal. Astaga!

Dan bukan main, laporan Indonesia Corruption Watch (ICW) soal anggota DPR periode 2024-2029 bikin makin ngeri. Dari 580 anggota Dewan, lebih dari separuhnya, alias 354 orang, punya latar belakang bisnis. Ini nunjukkin jelas banget kalau jalan menuju kursi empuk kekuasaan politik itu kini udah nyatu banget sama tumpukan duit. Logikanya sederhana tapi bikin kepala puyeng: ongkos politik yang selangit jauh dari gaji resmi, pasti butuh "dana talangan" dari mana kek. Dan celah paling gampang? Ya lewat kewenangan jabatan itu sendiri, entah atur tender, naikkin pangkat pejabat, atau ngatur segala macem. Selesai sudah demokrasi kita kalau begini terus. Kompas.

---
**Sumber:** [Kompas.com](https://nasional.kompas.com/read/2026/07/20/07550051/menata-ulang-biaya-politik-menyelamatkan-demokrasi?page=all)
