---
id: vjRk0_bbIYOa
cluster_id: nJGsdtiHx1sw
title: Dosen Mentereng Luar, Dapur Remuk Redam Gegara Gaji Kecil!
slug: dosen-mentereng-luar-dapur-remuk-redam-gegara-gaji-kecil
excerpt: Di balik gedung kampus yang megah, terkuak pengorbanan sunyi para akademisi
  yang tercekik kecemasan finansial. Gaji pokok jauh di bawah UMR disebut-sebut jadi
  'anestesi ekonomi' sistematis untuk membungkam suara kritis. Tauchid Komara Yuda
  pun menyoroti nasib miris ini di Kompas.
category: politik
tags:
- dosen
- gaji dosen
- politik tubuh
- anestesi ekonomi
- tauchid komara yuda
source_urls:
- https://www.kompas.id/artikel/politik-tubuh-akademisi-dan-anestesi-ekonomi
source_names:
- Kompas.id
image_url: https://assetd.kompas.id/bFcJc1dFvzj6b_sWwkv7P8i3Bk8=/1024x576/smart/filters:format(webp):quality(80)/https://cdn-dam.kompas.id/images/2026/07/09/b8638cd9e1f32c5f57c57d4065be91b9-20260708_OPINI_Politik_Tubuh_Akademisi_dan_Anestesi_Ekonomi.jpg
meta_title: 'Dosen Remuk Redam: Gaji Kecil, Pikiran Tumpul, Suara Dibungkam'
meta_description: Terbongkar! Di balik citra mentereng dosen, ada kenyataan pahit
  gaji di bawah UMR dan kecemasan finansial. Apakah ini 'anestesi ekonomi' sistematis
  untuk bungkam suara kritis? Baca kisah mirisnya!
canonical_url: https://berita.media/dosen-mentereng-luar-dapur-remuk-redam-gegara-gaji-kecil
schema_type: NewsArticle
status: published
created_at: '2026-07-09T17:01:42Z'
published_at: '2026-07-09T17:01:42Z'
---

Gila bro, dengerin dulu nih! Kita semua pasti salut sama para dosen, otaknya encer, penampilannya parlente, kayaknya hidup mereka enak banget di atas. Tapi, nah ini dia, siapa sangka di balik jas rapi dan gedung kampus megah itu, para akademisi kita malah pontang-panting kelabakan hadapi kecemasan finansial di akhir bulan. *Parahnya*, citra mentereng di luar itu bohong belaka, dapur mereka seringkali memprihatikan, bikin geram aja, kan?

Tauhid Komara Yuda, dalam opini tajamnya di Kompas, 23 Mei 2025, dengan judul "Dosen: Mentereng dari Luar, Remuk Redam Nasibnya", blak-blakan mengkritik jurang pemisah yang menganga lebar antara profesi terhormat ini dengan realitas hidup yang keras. Gerakan akar rumput pun ikut menyuarakan nestapa para pendidik ini, yang katanya merupakan buah dari "politik tubuh" yang dibuat mati rasa lewat "anestesi ekonomi" yang sengaja dipasang sistematis. Gilanya lagi, ini bukan isapan jempol belaka, bro!

Menurut teori biopolitik Michel Foucault, tubuh manusia itu bukan sekadar raga pasif, melainkan arena kekuasaan untuk mendisiplinkan. Nah, kalau gaji pokok dosen itu baru Rp 2,6 juta, jauh di bawah UMR, jangan dianggap cuma angka kecil. *Celakanya*, ini bisa jadi jurus jitu biar tubuh-tubuh intelektual ini nurut aja, nggak banyak ulah, gampang dikontrol penguasa. La gimana tidak, energi mereka habis buat bertahan hidup, mana sempat mikirin kritik kebijakan?

Yang bikin miris, seorang dosen S-3 lulusan luar negeri aja saat jadi saksi ahli di MK soal gaji dosen yang tidak layak, bersaksi kalau gaji awalnya cuma segitu. Ini namanya negara lagi nyuntikkin 'anestesi ekonomi'. Biusnya pelan tapi pasti bikin daya kritis tumpul gara-gara kecapekan fisik dan mental yang kronis. Sialnya, ini menciptakan fenomena prekariat akademik, hidupnya nggak jauh beda sama buruh kasar yang selalu ngerasain rentan secara ekonomi.

Habis sudah energi para pendidik hebat ini ngamen sana-sini buat nambal biaya sekolah anak, cicilan rumah, dan tagihan listrik yang melambung tinggi. Akibatnya, mereka sibuk ngurusin "kecemasan domestik", sampai-sampai bikin ruang buat riset penting atau kritik kebudayaan yang tajam jadi lumpuh total. Ujung-ujungnya, mereka terperangkap dalam birokrasi eksploitatif yang maksa kerja sampai 70 jam seminggu. Kasihan bener dah nasib para akademisi kita ini, yang dulu dianggap bergelimang harta, kini hidupnya makin tertekan! Kompas.

---
**Sumber:** [Kompas.id](https://www.kompas.id/artikel/politik-tubuh-akademisi-dan-anestesi-ekonomi)
