---
id: 4CzE2_YDKOU2
cluster_id: jDHmbOuNOEJ5
title: EKONOMI MENGGUILA, RIBUAN PEKERJA DICELOTOTI PERUSAHAAN
slug: ekonomi-mengguila-ribuan-pekerja-dicelototi-perusahaan
excerpt: Perekonomian Indonesia gemilang, pertumbuhan menanjak, investasi meroket.
  Tapi gila! Ribuan pekerja justru kena hajar PHK beruntun, nasib mereka amblas begitu
  saja. Mana logisnya cerita begini?
category: phk
tags:
- phk
- ekonomi indonesia
- ketenagakerjaan
- analisis ekonomi
source_urls:
- https://insight.kontan.co.id/news/di-balik-gelombang-pemutusan-hubungan-kerja-phk
source_names:
- KONTAN
image_url: https://foto.kontan.co.id/5jvoxAj_8mdMTbJUcxsInKtNXJk=/smart/2025/03/05/1498461085p.jpg
meta_title: 'PHK Massal: Ekonomi Gemilang, Nasib Pekerja Amblas'
meta_description: Ekonomi Indonesia tumbuh pesat, tapi ribuan pekerja malah dipecat.
  Analisis tajam mengapa realita berbeda dengan data. Nasib buruh jadi sorotan utama.
canonical_url: https://berita.media/ekonomi-mengguila-ribuan-pekerja-dicelototi-perusahaan
schema_type: NewsArticle
status: published
created_at: '2026-07-18T05:02:13Z'
published_at: '2026-07-18T05:02:13Z'
---

Gila bro, dengerin nih! Selama ini kan kita dibikin percaya kalau ekonomi lagi kinclong, perusahaan berekspansi, berarti lapangan kerja makin banyak, bener kan? Logika yang sejalan mulus kayak jalan tol. Tapi eh, tapi, beberapa bulan terakhir ini, kenyataan malah nampol telak! Alhasil, logika sederhana itu berantakan kayak kerupuk kena hajar satpam.

Jangan salah sangka, data BPS nunjukkin pertumbuhan ekonomi kita malah ngegas 5,61% di triwulan pertama 2026, inflasi juga anteng sesuai target BI, investasi bejibun tembus Rp 498,8 triliun. BI sendiri masih yakin ekonomi 2026 bisa lari di angka 4,9%-5,7%. Wah, kelihatannya sih makmur jaya, kan? Parahnya, di balik angka-angka ciamik itu, malah muncul berita PHK di mana-mana. Sialnya, Kementerian Ketenagakerjaan udah nyatet ada sekitar 43.000 pekerja yang nasibnya amblas sampai pertengahan tahun 2026 ini! Belum lagi sektor-sektor padat karya kayak tekstil, garmen, dan alas kaki yang lagi dipiting sama tekanan berat. Celakanya, ini kan sektor yang menyerap banyak tenaga kerja, jadi kalau mereka babak belur, ya buruh juga ikut remuk redam.

Yang bikin geram, kenapa bisa begini ceritanya? Di satu sisi ekonomi konon 'sehat', investasi 'mengalir deras', kok di sisi lain jutaan orang malah kehilangan pekerjaan. Ini bukan cuma masalah angka ekonomi yang tinggi, tapi harus ada hubungannya sama kesejahteraan rakyat, dong! Kalau begini terus, uang Rp 498,8 triliun itu buat siapa kalau ujung-ujungnya bikin perut banyak orang kosong? Memang sih, investasi itu penting, tapi kalau malah bikin PHK massal, apa gunanya? Ini namanya kayak makan buah simalakama, dimakan salah nggak dimakan bikin sengsara. Kontan mencatat angka 43.000 pekerja ini baru setengah tahun, bayangin kalau sampai akhir tahun, bisa jadi angkanya bikin geleng-geleng kepala.

Nah ini dia, sumber masalahnya harus diulik tuntas. Apa karena teknologi makin canggih perusahaan nggak butuh karyawan lagi? Atau ada kebijakan yang salah sasaran, sehingga pertumbuhan ekonomi itu cuma dinikmati segelintir orang? Yang jelas, ini bukan cerita sedih biasa, ini cerita pilu yang dialami ribuan rakyat kecil. Mereka yang tadinya punya harapan buat keluarga, kini harus pontang-panting cari sesuap nasi lagi. Kontan juga melansir bahwa sektor padat karya kayak garmen dan tekstil yang lagi tertekan berat, padahal ini sektor tulang punggung banyak pekerja.

Habis sudah. Permainan angka ekonomi yang kinclong ternyata nggak berbanding lurus sama nasib jutaan pekerja. Ujung-ujungnya, yang kuat makin kaya, yang lemah makin tergilas. Mana ada cerita begini berakhir baik kalau nggak ada intervensi yang nyata. Rakyat kecil cuma bisa gigit jari melihat realita pahit ini. Ini bukan sekadar berita, ini alarm bahaya buat kita semua! Bank Indonesia menyebut angka pertumbuhan ekonomi positif, tapi apakah itu menjamin keadilan sosial bagi seluruh rakyat? Sepertinya belum. Kontan.

---
**Sumber:** [KONTAN](https://insight.kontan.co.id/news/di-balik-gelombang-pemutusan-hubungan-kerja-phk)
