---
id: uJ_OOpsIt3dx
cluster_id: yyEKRhcOlamE
title: 'Ganyang Politik Praktis, Survei: Publik Desak NU Jauhi'
slug: ganyang-politik-praktis-survei-publik-desak-nu-jauhi
excerpt: 'Survei Parameter Politik Indonesia meledak: 65,8% publik setuju NU jauhi
  politik praktis, sementara yang menolak cuma 29%. Publik sepertinya muak dengan
  ulah ormas keagamaan yang cawe-cawe di dapur kekuasaan. Kumparan.com melaporkan,
  ini tamparan keras bagi para politikus yang ingin numpang di NU.'
category: politik
tags:
- politik
- NU
- survei
- politik praktis
source_urls:
- https://kumparan.com/kumparannews/parameter-politik-indonesia-mayoritas-publik-setuju-nu-jauhi-politik-praktis-283A2quWEKp
source_names:
- Kumparan.com
image_url: https://blue.kumparan.com/image/upload/fl_progressive,fl_lossy,c_fill,f_auto,q_auto:best,w_640,h_336/g_south,l_og_kumparan_zscykb/co_rgb:ffffff,g_south_west,l_text:Heebo_20_bold:Konten%20Redaksi%20kumparan%0DkumparanNEWS,x_140,y_26/v1634025439/01kxwngxvh2dmn0b9yvzxzsm09.jpg
meta_title: 'Survei: 65,8% Publik Desak NU Jauhi Politik Praktis'
meta_description: Survei Parameter Politik Indonesia menunjukkan 65,8% publik setuju
  NU jauhi politik praktis. Hanya 29% yang menolak. Ini pukulan telak bagi yang ingin
  NU cawe-cawe di politik.
canonical_url: https://berita.media/ganyang-politik-praktis-survei-publik-desak-nu-jauhi
schema_type: NewsArticle
status: published
created_at: '2026-08-24T17:04:05Z'
published_at: '2026-08-24T17:04:05Z'
---

Gila, bro, lembaga survei Parameter Politik Indonesia baru saja mengeluarkan hasil yang bikin melongo. Mayoritas publik ternyata setuju Nahdlatul Ulama (NU) menjauh dari politik praktis. Angkanya fantastis: 65,8%. Itu artinya, hampir dua pertiga responden menginginkan NU fokus ke urusan umat, bukan urusan kekuasaan. Demikian dilansir Kumparan.com.

Kalau diubek-ubek lebih dalam, yang menyatakan sangat setuju mencapai 11,5%, sedangkan yang setuju biasa-biasa saja 54,3%. Dijumlah, lantas jadi 65,8%. Jangan salah, jumlah itu bukan angka main-main. Itu suara mayoritas yang terang-terangan menolak NU ikut cawe-cawe di dapur politik. Sebaliknya, yang tidak setuju hanya 20,3% dan yang sangat tidak setuju cuma 8,7%, total 29%. Parahnya, 29% ini masih ngotot NU dekat dengan penguasa. Siapa tahu mereka ini memang getol politik praktis dan ingin NU jadi kendaraan mereka. Data lengkap ini dirilis Parameter Politik Indonesia dan dimuat Kumparan.com.

Celakanya, masih ada saja pihak yang ngotot NU jangan dijauhkan dari politik praktis. Padahal, publik sudah sangat jelas mendukung NU kembali ke khittah, yaitu menjaga akidah dan kebangsaan. Gilanya, politik praktis di negeri ini memang bikin mual. Bukan rahasia lagi, banyak politikus yang hanya mencari untung, saling tikam, saling jegal, dan lupa pada rakyat kecil. Maka wajar, mayoritas publik ingin NU menjadi penyejuk, bukan ikut panas. Survei ini menjadi alarm bagi para elite, jangan coba-coba menyeret NU ke pusaran politik yang kotor. Sebab, jika itu terjadi, kepercayaan publik pada NU bisa luntur. Semua ini disampaikan dalam laporan Kumparan.com.

Dampaknya, wacana NU terlibat politik praktis bisa langsung keok. Sebab, publik sudah angkat bicara melalui survei ini. Alhasil, partai-partai yang berharap NU menjadi mesin politik harus gigit jari. Masyarakat ternyata lebih cerdas dari yang diperkirakan. Mereka tidak ingin ormas keagamaan dijadikan alat legitimasi kekuasaan. Dan bukan main, survei ini keluar di tengah tahun politik, jadi sinyalnya begitu kuat. Artinya, para politikus yang mendekati NU harus berpikir ulang. Jangan sampai NU kehilangan kharisma gara-gara dijejali urusan politik praktis. Laporan ini disiarkan oleh Kumparan.com.

Habis sudah. Menurut survei yang dilansir Kumparan.com, publik menghendaki NU fokus pada umat, bukan kursi. Kalau masih ada yang nekat menyeret NU ke politik praktis, siap-siap saja dihajar oleh publik. Karena itu, para elit NU dan politikus sebaiknya mendengarkan suara rakyat sebelum semuanya terlambat.

---
**Sumber:** [Kumparan.com](https://kumparan.com/kumparannews/parameter-politik-indonesia-mayoritas-publik-setuju-nu-jauhi-politik-praktis-283A2quWEKp)
