---
id: nGIYTsj8YAHi
cluster_id: n5Yt8r1P6yle
title: GILA! BUMN DIBABAT HABIS-HABISAN, 1.077 Jadi 200!
slug: gila-bumn-dibabat-habis-habisan-1-077-jadi-200
excerpt: Alamakjang! Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara)
  membabat tuntas BUMN yang kerugiannya tembus Rp 20 triliun itu. Total perusahaan
  pelat merah yang ngos-ngosan bakal disunat dari seribu lebih jadi cuma dua ratusan
  saja. Gilanya, potensi hematnya sampai Rp 50 triliun per tahun!
category: BUMN
tags:
- BUMN
- Perampingan BUMN
- Danantara
- Penghematan Negara
source_urls:
- https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-8530026/alasan-danantara-pangkas-bumn-dari-1-077-jadi-200
source_names:
- detikFinance
image_url: https://awsimages.detik.net.id/api/wm/2025/07/01/wisma-danantara-indonesia-1751345496063_169.jpeg?wid=54&w=1200&v=1&t=jpeg
meta_title: BUMN Dipangkas Hingga 80 Persen, Hemat Rp 50 T Tiap Tahun
meta_description: Ribuan BUMN bakal dilenyapkan jadi ratusan! Potensi hemat Rp 50
  triliun per tahun, tapi karyawan aman. Ini rinciannya!
canonical_url: https://berita.media/gila-bumn-dibabat-habis-habisan-1-077-jadi-200
schema_type: NewsArticle
status: published
created_at: '2026-06-13T23:01:54Z'
published_at: '2026-06-13T23:01:54Z'
---

Hajatan besar-besaran di tubuh BUMN benar-benar tak terhindarkan, bro! Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) siap-siap membuang puluhan perusahaan negara yang nyatanya cuma jadi beban negara. Targetnya sadis: dari 1.077 BUMN yang ada sekarang, bakal dipangkas habis jadi sisa 200 sampai 300 entitas saja. Ujung-ujungnya, BUMN yang tidak becus dan cuma ngebocorin duit rakyat mau disapu bersih biar negara gak nanggung rugi terus. 

Danantara bahkan blak-blakan ngakuin, dari seribuan BUMN itu, lebih dari separuhnya, sekitar 52%, justru mencatat kerugian. Parahnya lagi, akumulasi kerugian dari perusahaan-perusahaan kelas teri ini kalau dijumlahin tembus Rp 20 triliun, sebuah angka yang bikin geleng-geleng kepala saking gedenya. Nah ini dia yang bikin geram, setiap tahun potensi pemborosan akibat praktik 'main mata' antarperusahaan negara ini bisa mencapai Rp 30 triliun, gara-gara transaksi berlapis yang gak penting, dari induk ke anak, cucu, sampai cicit perusahaan. Sungguh pemandangan yang bikin miris, DetikFinance.

Gilanya, upaya perampingan ini diperkirakan bakal langsung ngasih penghematan fantastis, tembus Rp 50 triliun per tahun! Angka ini didapat dari pemangkasan transaksi internal yang boros dan potensi kerugian akuntansi yang selama ini menggerogoti kas negara. Contoh nyatanya udah kelihatan, kayak di Pertamina. PT Pertamina Patra Niaga, Kilang Pertamina Internasional, dan Pertamina International Shipping (PIS) yang bisnisnya nyambung langsung dilebur jadi satu. Danantara juga nemuin hal serupa di Telkom Group, di mana proyek jaringan serat optik harus melewati banyak 'gerbang' perusahaan, bikin biaya jadi membengkak tanpa perlu, DetikFinance.

Proses *streamlining* ini diprediksi bakal rampung tahun ini, dan kalau berhasil dipangkas jadi sekitar 254 entitas, penghematan langsungnya bisa Rp 50 triliun! Jadi, bukan cuma mimpi, tapi angka nyata yang bisa diselamatkan. Danantara menegaskan, ini bukan ajang PHK massal kayak yang ditakutkan banyak orang. Presiden Prabowo Subianto sendiri sudah mewanti-wanti agar transformasi besar-besaran ini tidak sampai menyengsarakan para pekerja. Alhasil, seluruh karyawan disebut akan tetap dipertahankan dan dialihkan ke perusahaan hasil konsolidasi, karena biaya tenaga kerjanya jauh lebih kecil dibanding potensi efisiensi yang didapat, DetikFinance.

Jadi, buat apa mikirin PHK kalau potensi hematnya puluhan triliun? Ini langkah berani yang perlu diapresiasi demi menyehatkan BUMN dan menyelamatkan uang rakyat. Sebuah gebrakan yang memang sudah lama ditunggu-tunggu oleh publik agar perusahaan pelat merah ini benar-benar berorientasi profit dan bukan jadi sapi perah para oknum tak bertanggung jawab.

---
**Sumber:** [detikFinance](https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-8530026/alasan-danantara-pangkas-bumn-dari-1-077-jadi-200)
