---
id: CMT3co8YOagT
cluster_id: K9wiBhMNsI9P
title: GILANYA! Beban Politik Pilkada Bikin Kepala Daerah Langsung 'Nyambi' Korupsi
slug: gilanya-beban-politik-pilkada-bikin-kepala-daerah-langsung-nyambi-korupsi
excerpt: Hutan gunung biayanya politik kepala daerah! Ternyata, beban terbesar bukan
  saat kampanye, tapi mahar ke partai dan politik uang bikin mereka terjerat korupsi.
  Alhasil, 11 kepala daerah dicokok KPK di tahun 2026!
category: politik
tags:
- pilkada
- korupsi
- kepala daerah
- KPK
- mahar politik
- politik uang
source_urls:
- https://nasional.kompas.com/read/2026/07/21/13400081/biaya-politik-pilkada-tinggi-beban-terbesar-dinilai-bukan-saat-kampanye
source_names:
- Kompas.com
image_url: https://asset.kompas.com/crops/Bl5d1dcX8V-NAVLcSAAcLN_ELW0=/0x0:0x0/1200x675/filters:watermark(data/photo/2026/01/30/697c815a5f0b9.png,0,-0,1)/data/photo/2025/02/20/67b6c3943b811.jpg
meta_title: Biaya Politik Pilkada Tinggi Bikin Kepala Daerah Korupsi
meta_description: Beban politik pilkada yang tinggi, terutama mahar partai dan politik
  uang, jadi akar masalah korupsi kepala daerah. 11 pejabat dicokok KPK di 2026!
canonical_url: https://berita.media/gilanya-beban-politik-pilkada-bikin-kepala-daerah-langsung-nyambi-korupsi
schema_type: NewsArticle
status: published
created_at: '2026-07-22T05:01:45Z'
published_at: '2026-07-22T05:01:45Z'
---

ASTAGFIRULLAH! Gilanya dunia politik kita ini, bro! Siapa sangka, rupanya calon kepala daerah itu keluar uang setengah mati bukan cuma buat kampanye, tapi udah ngeluarin duit buat ngelamar partai. Iya, betul, buat 'mahar' biar bisa nyalonin diri, udah nguras kantong sampai miliaran rupiah, kata pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga. Nah, ini baru awal mula penderitaan para calon yang mau jadi pemimpin! Kompas.com

Belum juga naik panggung kampanye, eh udah harus siapin dana tak terduga segunung. Habis urusan sama partai, giliran urusan sama rakyat jelata. Biar suara aman, politik uang pun digeber sampai larut malam. Belum lagi, disuruh bayar saksi di TPS yang jumlahnya bejibun itu, belum lagi tim IT buat ngintilin hasil, biar nggak dicurangin penyelenggara. Semua serba nggak gratis, bro! Jamiluddin membeberkan, anggaran buat saksi aja bisa sampai Rp 1,8 miliar kalau butuh 6.000 orang! Bayangkan saja, semua ini dibayar dari mana kalau bukan dari hasil 'nyambi' korupsi pas udah jadi pejabat? Kompas.com

Parahnya lagi, kalau udah terpilih jadi kepala daerah, hutang budi politik buat modal kampanye itu harus dibayar tunai. Makanya, nggak heran kalau kita lihat banyak banget kepala daerah yang ketangkep KPK gara-gara korupsi. Di tahun 2026 saja, sudah ada 11 kepala daerah yang dicokok dalam operasi tangkap tangan (OTT) oleh lembaga antirasuah itu. Sebut saja Bupati Kuantan Singing, Bupati Sukoharjo, Bupati Tulungagung, Bupati Rejang Lebong, Bupati Pekalongan, dan Bupati Pati, semuanya jadi pesakitan. Kompas.com

Jadi jelas kan, bro, biang keroknya itu bukan cuma soal sistem pilkada atau kampanye semata. Tapi, lingkaran setan biaya politik yang meroket dari awal pendaftaran sampai perhitungan suara, yang ujung-ujungnya bikin pejabat 'autopilot' korupsi. Yang kasihan ya rakyat, nasibnya dipermainkan demi penuhi 'setoran' modal politik. Nggak kebayang deh kalau beban ini terus berlanjut, negeri ini mau jadi apa nanti?

---
**Sumber:** [Kompas.com](https://nasional.kompas.com/read/2026/07/21/13400081/biaya-politik-pilkada-tinggi-beban-terbesar-dinilai-bukan-saat-kampanye)
