---
id: nA1bKB_Wrkqf
cluster_id: Tjah2IBW7I-T
title: Kemendikdasmen Siap Berantas Bullying, Siswa Malah Ketakutan dengan Kebijakan
  Baru?
slug: kemendikdasmen-siap-berantas-bullying-siswa-malah-ketakutan-dengan-kebijakan-baru
excerpt: Menteri Abdul Mu'ti sesumbar Kemendikdasmen punya strategi baru berantas
  bullying pakai budaya sekolah yang 'mindful, meaningful, joyful'. Tapi lihat saja
  pelaksanaannya di Sidoarjo, orang tua malah dipaksa jadi detektif privat buat nyelesaiin
  masalah anak.
category: bullying
tags:
- bullying
- pendidikan
- Kemendikdasmen
- Abdul Mu'ti
- Sidoarjo
source_urls:
- https://www.pojokpapua.id/kemendikdasmen-terapkan-strategi-baru-cegah-bullying-sekolah
source_names:
- Pojok Papua
image_url: https://cdn.pojokpapua.id/media/images/2026/06/tRy6lWpgGW.jpeg?location=1&width=1200&height=674&quality=80&watermark=1
meta_title: Kemendikdasmen Berantas Bullying, Orang Tua Malah Disuruh Turun Tangan
meta_description: Kemendikdasmen terapkan strategi baru cegah bullying pakai budaya
  sekolah. Tapi kok pelaksanaannya malah bikin orang tua repot di Sidoarjo?
canonical_url: https://berita.media/kemendikdasmen-siap-berantas-bullying-siswa-malah-ketakutan-dengan-kebijakan-baru
schema_type: NewsArticle
status: published
created_at: '2026-06-02T11:01:28Z'
published_at: '2026-06-02T11:01:28Z'
---

Ceritanya begini. Si Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, sesumbar di Jakarta kemarin (2 Juni 2026) kalau Kemendikdasmen mau terapkan strategi baru buat basmi bullying di sekolah. Katanya sih, mau ciptain sekolah yang aman, nyaman, humanis, dan inklusif. Gila, terdengar bagus banget kan? Sampai-sampai mereka gandeng Pemerintah Australia buat tanda tangan komitmen segala. Pokoknya, semua murid harus diterima apa adanya, begitu kata Mu'ti. Pojok Papua, Medcom

Nah, ini dia paradoksnya! Menurut Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 dan Kepmendikdasmen Nomor 17 Tahun 2026, pendekatannya harus 'mindful, meaningful, dan joyful'. Ini artinya, pendidikan bukan cuma soal nilai akademik, tapi juga karakter dan kesejahteraan emosional. Sekolah harus bikin siswa senang, partisipatif, dan menghargai perbedaan. Kedengarannya revolusioner. Tapi kok ya di lapangan, yang dipamerin malah contoh sekolah di Sidoarjo yang bikin orang tua repot setengah mati. Pojok Papua, Medcom

Lihat saja SDN Sedatigede 2 Sidoarjo. Mereka bikin Program Sahabat buat dorong perilaku positif. Caranya? Libatkan orang tua! Terus SDN Pucang 1 Sidoarjo, lebih parah lagi. Kalau ada kasus bullying, guru disuruh kunjungan rumah, alias *home visit*. Bukan cuma pelaku, tapi korban juga didatengin orang tuanya. Ngomongin masalah anak di rumah sendiri. Lah, ini sekolah atau biro konsultasi keluarga? Yang penting kan guru harusnya jadi garda terdepan, bukan malah ngelesin tanggung jawab ke orang tua. Pojok Papua, Medcom

Alhasil, si Rizki yang katanya ngasih testimoni bilang metode kekeluargaan ini membuahkan hasil. Pelaku sadar, korban berani ngomong. Tapi yang bikin geram, kok ya sistemnya jadi beban buat orang tua? Udah capek kerja, urus anak di sekolah, eh disuruh jadi detektif privat buat nyelesaiin masalah bullying. Belum lagi, ngomong tanpa judgement? Gimana coba kalau orang tua pelaku malah membela mati-matian? Yang ada malah runyam. Ini sih namanya memindahkan masalah, bukan menyelesaikan. Pojok Papua

Celakanya, di tengah semua wacana manis soal humanis dan inklusif, pelaksanaannya malah jadi ribet. Orang tua dipaksa ikut campur urusan sekolah sampai ke rumah. Padahal esensinya, Kemendikdasmen kan bilang mau bikin sekolah aman dan nyaman. Tapi dengan cara begini, malah bikin orang tua pusing tujuh keliling. Kapan pendidikan karakter yang benar-benar 'menggembirakan' dan 'tidak content-heavy' ini bisa terwujud kalau ujung-ujungnya semua beban malah lari ke orang tua? Selesai sudah.

---
**Sumber:** [Pojok Papua](https://www.pojokpapua.id/kemendikdasmen-terapkan-strategi-baru-cegah-bullying-sekolah)
