---
id: gvac7rFUvJgd
cluster_id: mQS6UrONGQ4p
title: Mahkamah Agung Sebut Pemuda 'Kecoak', Malah Lahir Partai Digital Raksasa!
slug: mahkamah-agung-sebut-pemuda-kecoak-malah-lahir-partai-digital-raksasa
excerpt: Gilanya, gara-gara disebut 'kecoa' dan 'parasit' oleh Ketua Mahkamah Agung
  India, anak muda malah bikin gerakan Cockroach Janta Party (CJP) yang followers-nya
  tembus 20 juta dalam seminggu. Kelabakan deh elite politik!
category: politik
tags:
- politik digital
- India
- mahkamah agung
- generasi muda
- CJP
source_urls:
- https://news.detik.com/kolom/d-8510310/cjp-dan-politik-digital-india
source_names:
- detikNews
image_url: https://awsimages.detik.net.id/api/wm/2026/05/21/partai-kecoak-india-1779335765777_169.png?wid=54&w=1200&v=1&t=jpeg
meta_title: Anak Muda India Jadi 'Kecoak' Politik Raksasa Lawan Elite
meta_description: Gerakan Cockroach Janta Party (CJP) lahir karena hinaan Ketua Mahkamah
  Agung India. Kini, 20 juta lebih pemuda bersatu digital melawaan elite!
canonical_url: https://berita.media/mahkamah-agung-sebut-pemuda-kecoak-malah-lahir-partai-digital-raksasa
schema_type: NewsArticle
status: published
created_at: '2026-05-30T05:02:50Z'
published_at: '2026-05-30T05:02:50Z'
---

Ceritanya begini. Publik India pertengahan Mei lalu gempar — bukan karena skandal besar, tapi gara-gara gerakan yang namanya aja bikin geleng-geleng kepala: Cockroach Janta Party (CJP)! Dengar namanya, pasti langsung dikira lelucon atau akun parodi media sosial. Tapi jangan salah, bro! Di balik simbol kecoa yang mereka pakai, tersimpan kegelisahan mendalam soal hubungan negara, elite, dan generasi muda India. detikNews

Gerakan ini lahir dari pria bernama Abhijeet Dipke, lulusan Boston University yang dulunya pernah nyicip kerja di partai oposisi Aam Aadmi Party (AAP). Dia tergerak bikin CJP setelah dengar Ketua Mahkamah Agung India, Surya Kant, menyebut para pemuda yang kritis kebijakan pemerintah itu sebagai "kecoa" dan "parasit masyarakat." Edan! Istilah yang jelas-jelas bikin ngamuk anak muda yang aspirasinya dianggap remeh temeh. detikNews

Nah ini dia yang bikin heboh. Alih-alih ngambek lalu menghilang dari jagat maya, para pemuda itu malah membalik keadaan! Label hinaan justru mereka jadikan identitas kolektif. Simbol kecoa yang tadinya mau dipakai buat ngejek, eh malah jadi senjata buat melawan. Mereka ngeluarin slogan "They tried to step on us. We came back" — membuktikan bahwa generasi muda tidak akan diam saja kalau suara mereka dianggap angin lalu. Parahnya, akun Instagram CJP langsung melejit sampai 20 juta lebih pengikut cuma dalam satu minggu! Jauh ngalahin akun partai penguasa dan oposisi, bikin para elite politik kelimpungan. detikNews

Fenomena CJP ini memang menarik banget buat dibahas. Pertama, munculnya di India, negara yang strukturnya sudah kompleks dari dulu. Bayangin aja, lebih dari 1,4 miliar penduduknya itu beragam banget — ratusan etnis, bahasa, kasta, dan agama. Biasanya, identitas politik dibentuk sama partai, organisasi keagamaan, atau asosiasi komunitas konvensional. Tapi sekarang, teknologi digital pelan-pelan mengubah semua itu. detikNews

Kedua, ini juga jadi bukti kalau jaringan sosial digital bisa nembus fragmentasi masyarakat yang dulu jadi masalah besar di India. Dulu, buku Ashutosh Varshney soal konflik etnis di India bilang, ketegangan gampang muncul kalau kelompok-kelompok masyarakat terpecah-belah dan eksklusif. Tapi lihat sekarang, CJP justru bikin jaringan lintas kelompok, mengumpulkan suara anak muda dari berbagai latar belakang. Ini namanya digitalisasi politik yang bikin geleng-geleng kepala! detikNews

---
**Sumber:** [detikNews](https://news.detik.com/kolom/d-8510310/cjp-dan-politik-digital-india)
