---
id: FL-tF3OHz0Bo
cluster_id: AFSFpHSp-ybn
title: MBG Beracun! Dibiarkan Normal, Sekarang Jadi Bom Waktu!
slug: mbg-beracun-dibiarkan-normal-sekarang-jadi-bom-waktu
excerpt: Siang bolong-bolong, program Makan Bergizi Gratis (MBG) terbukti beracun!
  Keracunan berulang, kritik diabaikan. Ini bukan kesalahan tunggal, tapi 'normalization
  of deviance' ala Challenger yang bakal bikin gempar! Kompas.id
category: MBG
tags:
- MBG
- keracunan makanan
- konflik kepentingan
- pengawasan
- tata kelola
source_urls:
- https://www.kompas.id/artikel/normalisasi-penyimpangan-bom-waktu-mbg
source_names:
- Kompas.id
image_url: https://assetd.kompas.id/iAfkQt-mKe2ZY7wQ-RPP_SwvLOw=/1024x575/smart/filters:format(webp):quality(80)/https://cdn-dam.kompas.id/photo/ori/2023/03/05/182a692a-512b-481f-86be-01ae6b741d49.jpg
meta_title: MBG Terbukti Beracun dan Bermasalah Sejak Awal
meta_description: Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diduga bermasalah sejak awal.
  Kasus keracunan berulang dan konflik kepentingan mengancam, mirip tragedi Challenger.
canonical_url: https://berita.media/mbg-beracun-dibiarkan-normal-sekarang-jadi-bom-waktu
schema_type: NewsArticle
status: published
created_at: '2026-06-06T23:01:53Z'
published_at: '2026-06-06T23:01:53Z'
---

Siang bolong-bolong, tiba-tiba terdengar kabar burung yang bikin geram: program Makan Bergizi Gratis (MBG) ternyata sudah lama bermasalah! Berbagai tanda bahaya sudah muncul sejak lama, tapi malah ditoleransi. Mulai dari kasus keracunan makanan yang berulang kali terjadi di berbagai daerah, sampai kritik pedas dari media, akademisi, dan masyarakat sipil soal tata kelola yang amburadul, konflik kepentingan yang jelas, dan pengawasan yang lemah. Parahnya, semua peringatan keras itu seperti masuk kuping kanan keluar kuping kiri, berlalu begitu saja tanpa koreksi berarti! Kompas.id

Fenomena mengerikan ini bikin kita teringat konsep "normalization of deviance" yang diungkap sosiolog Diane Vaughan. Ingat kasus meledaknya pesawat ulang-alik Challenger tahun 1986? Ternyata, bencana besar seringkali bukan karena satu kesalahan fatal saja, melainkan akumulasi dari penyimpangan-penyimpangan kecil yang terus dibiarkan, ditoleransi, sampai akhirnya dianggap sesuatu yang wajar dan normal! Nah, pola ini persis terlihat dalam perjalanan MBG. Keracunan makanan cuma dianggap insiden teknis belaka, sementara korban-korbannya cuma jadi angka-angka statistik yang diperkecil maknanya. Kritik publik dianggap sebagai gangguan yang mengganggu kepentingan nasional, padahal itu demi kebaikan bersama. Potensi konflik kepentingan? Ah, itu cuma masalah administratif biasa, kata mereka. Ujung-ujungnya, penyimpangan yang tadinya cuma alarm bahaya, kini sudah berubah jadi kebiasaan yang membahayakan! Kompas.id

Dan celakanya, kalau kita telusuri lagi, sejak awal desain tata kelola MBG ini memang sudah punya banyak anomali yang bikin geleng kepala! Anggaran program ini luar biasa besar karena tidak fokus pada siapa yang benar-benar membutuhkan. Seharusnya, dalam kondisi anggaran sebesar itu, pengawasan harusnya makin ketat dong! Eh, malah sebaliknya yang terjadi di lapangan. Publik melihat banyak sekali masalah dalam transparansi, pengadaan barang, distribusi makanan, sampai konflik kepentingan yang terang-terangan. Yang paling mencolok, batas antara pelaksana program, pemegang kekuasaan, dan pihak yang seharusnya mengawasi jadi kabur. Kompas.id

Gilanya, di beberapa daerah, dapur MBG ini malah dikelola atau terafiliasi dengan anggota DPR, institusi kepolisian, bahkan militer! Keterkaitan yang bikin merinding. Sebuah kajian dari Indonesia Corruption Watch (ICW) bahkan menemukan indikasi kuat bahwa pengelolaan dapur MBG punya hubungan dekat dengan jaringan politik, para sukarelawan kampanye, dan kelompok-kelompok yang dekat dengan kekuasaan. Dalam kondisi seperti ini, keberhasilan program publik malah jadi susah dibedakan dari kepentingan politik untuk mempertahankan kekuasaan. Dari sisi tata kelola yang sehat, kedekatan semacam ini jelas jadi ancaman besar. Soalnya, ini bisa menciptakan konflik kepentingan yang masif dan melemahkan independensi pengawasan itu sendiri. Kompas.id

Nah, inilah akar masalah kenapa MBG sulit sekali diawasi! Padahal, dalam sistem yang sehat, pengawas itu harus punya jarak yang jelas dari pelaksana program. Kritik harusnya bisa disampaikan tanpa rasa takut sedikit pun. Evaluasi program harusnya bisa dilakukan secara independen, tanpa intervensi apa pun. Tapi apa yang terjadi? Ketika aktor-aktor yang punya pengaruh politik besar, kekuatan yang bisa memaksa, dan posisi strategis dalam negara justru terlibat langsung dalam pelaksanaan program, batas-batas itu jelas jadi buyar. Dalam banyak kasus, keluhan masyarakat justru direspons dengan sikap defensif atau dianggap mengganggu jalannya program. Yang lebih parah, banyak orangtua yang mengeluhkan kualitas makanan untuk anak-anak mereka malah diintimidasi! Kompas.id

Habislah sudah. Bagaimana pengawasan program publik bisa berjalan optimal kalau pelaksana programnya justru orang-orang yang punya kekuatan untuk menekan dan menutup-nutupi kenyataan? MBG ini benar-benar bom waktu yang siap meledak kapan saja! Kompas.id

---
**Sumber:** [Kompas.id](https://www.kompas.id/artikel/normalisasi-penyimpangan-bom-waktu-mbg)
