---
id: xEYcRz-sKPgh
cluster_id: Hn4D46ize-kf
title: Muktamar NU Dianggap Magnet Politik, Ketua PBNU Tak Pengaruhi Suara Nahdliyin
slug: muktamar-nu-dianggap-magnet-politik-ketua-pbnu-tak-pengaruhi-suara-nahdliyin
excerpt: Muktamar Nahdlatul Ulama selalu jadi sorotan tajam karena dinilai mampu menggerakkan
  peta politik nasional. Namun, pengamat politik pesimistis Ketua Umum PBNU punya
  pengaruh besar terhadap pilihan warga NU, terbukti dari kontribusi NU pada corak
  politik di era terbaru, kata Dedi Kurnia Syah.
category: politik
tags:
- Muktamar NU
- PBNU
- Politik Indonesia
- Nahdlatul Ulama
- Dedi Kurnia Syah
source_urls:
- https://nasional.kompas.com/read/2026/08/27/09551971/muktamar-nu-dan-magnet-politik-ketua-umum-pbnu
- https://www.kompas.id/artikel/jalan-politik-kebangsaan-nahdlatul-ulama
source_names:
- Kompas.com
- Kompas.id
image_url: https://asset.kompas.com/crops/cDlVutXbiwEcKVJjNqignekDIAE=/0x1:5000x3334/1200x675/filters:watermark(data/photo/2026/01/30/697c815a5f0b9.png,0,-0,1)/data/photo/2026/08/27/6a8fa65855317.jpg
meta_title: 'Muktamar NU: Magnet Politik atau Sekadar Forum Tertinggi?'
meta_description: Muktamar NU bikin heboh politik, tapi benarkah Ketua PBNU punya
  pengaruh besar pada suara Nahdliyin? Pengamat bongkar semuanya!
canonical_url: https://berita.media/muktamar-nu-dianggap-magnet-politik-ketua-pbnu-tak-pengaruhi-suara-nahdliyin
schema_type: NewsArticle
status: published
created_at: '2026-08-27T05:02:17Z'
published_at: '2026-08-27T05:02:17Z'
---

Gila bro, dengerin dulu nih! Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) itu bukan sekadar acara kumpul-kumpul petinggi ormas, tapi udah kayak magnet kuat yang narik perhatian seluruh jagat politik nasional. Gimana nggak? Forum tertinggi ini bukan cuma nentuin siapa yang bakal mimpin organisasi masyarakat terbesar se-Indonesia, tapi juga ngebahas arah strategis dan bikin keputusan penting. Udah kebayang kan, betapa gila pengaruhnya?

Parahnya, pengamat politik kayak Dedi Kurnia Syah sampai blak-blakan bilang kalau NU itu basis suara yang gede banget, bisa ngaruhin peta politik nasional. Menurut dia, posisi ketua umum PBNU itu penting banget di kalkulasi politik, soalnya dianggap bisa ngontrol jutaan warga NU yang tersebar di seluruh penjuru negeri. Ditambah lagi, para kiai di pesantren bisa jadi jembatan super kuat antara elite politik sama masyarakat akar rumput, siap jadi mesin politik dan relawan kampanye. Wah, gawat banget kalau sampai salah pegang!

Eh, tapi jangan senang dulu! Dedi Kurnia Syah juga ngoreksi habis-habisan anggapan kalau ketua umum PBNU bisa seenaknya ngatur suara warga NU. Dia bilang, zaman sekarang warga NU punya banyak pilihan politik. Ada yang nyantol ke PKB atau PPP, tapi banyak juga yang punya pilihan beda. "Ketua umum sebenarnya tidak memiliki pengaruh signifikan," kata Dedi dengan nada tegas. Alhasil, daya tawar jabatan ketua umum PBNU nggak bisa cuma diukur dari jumlah anggotanya aja, tapi harus lihat juga kemampuan struktur organisasinya buat ngarahin pilihan politik. Nah ini dia yang bikin pusing!

Yang bikin makin runyam, Dedi Kurnia Syah nunjukin fakta keras: "Sejauh ini tidak ada bukti muktamar NU bisa pengaruhi situasi politik, misal era terbaru sejak Said Aqil Siraj hingga Yahya Staquf, NU sebenarnya tidak banyak berkontribusi pada corak politik." Dia bahkan nambahin, kalau ketua umum PBNU konsisten netral kayak Said Aqil dulu, yang meskipun condong ke PKB tapi nggak pernah intervensi masyarakat NU. Jadi, kesimpulannya, urusan politik NU itu nggak bisa ditumpuin sama satu figur aja, bro. Kompas.com.

Bukan cuma Dedi, Nadirsyah Hosen yang akademisi sekaligus tokoh Nahdliyin juga nggak nampik kalau perhatian ke Muktamar NU itu emang gede karena pengaruh NU di ranah sosial, moral, budaya, pendidikan, sampai politik. Tapi, NU itu sendiri punya cara pandang yang beda soal politik kebangsaan. Sejak awal berdiri, NU selalu mewarnai dinamika bangsa tanpa perlu terjun langsung ke politik praktis, kata Kompas.id.

Jangankan soal politik praktis, NU juga getol jaga keutuhan bangsa. Buktinya, ada sarasehan Gerakan Nurani Bangsa yang ngumpulin tokoh lintas iman dan latar belakang. Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, Lukman Hakim Saifuddin, dan Alissa Wahid ikut prihatin sama kegelisahan masyarakat soal kekerasan yang berlebihan dari penguasa. "Sebagai orang tua, kami berharap bangsa dan negara Indonesia terus maju mewujudkan cita-cita kemerdekaan Indonesia. Ini hanya bisa dipenuhi dengan menyelenggarakan negara yang berpihak kepada rakyat, adil, dan berdasarkan kedaulatan sipil dan kedaulatan hukum," ungkap Sinta. Pesan kebangsaan ini emang kuat, bukti kalau NU hadir dengan gagasan yang bikin bangsa tetep bersatu. Kompas.id.

Semangat cinta tanah air ala NU itu bukan barang baru. Sejak didirikan tahun 1926, KH Hasyim Asy’ari udah menekankan *hubbul wathan minal iman* alias cinta tanah air itu bagian dari iman. Makanya, para santri NU dulu nggak ragu berjuang mati-matian buat pertahanin Tanah Air. Nah, sampai sekarang pun, NU tetap aja ngasih warna di dunia politik, bukan cuma agama. Dulu mereka gabung Masyumi, eh terus bikin partai sendiri dan langsung nyabet posisi ketiga Pemilu 1955. Gila, bukan partai kaleng-kaleng memang NU ini. Kompas.id.

---
**Sumber:** [Kompas.com](https://nasional.kompas.com/read/2026/08/27/09551971/muktamar-nu-dan-magnet-politik-ketua-umum-pbnu) · [Kompas.id](https://www.kompas.id/artikel/jalan-politik-kebangsaan-nahdlatul-ulama)
