---
id: mchDH-onF6ty
cluster_id: 86TNLRGOl0Cb
title: 'Pameran Uang Korupsi: Drama Opera Sabun Ala Penegak Hukum!'
slug: pameran-uang-korupsi-drama-opera-sabun-ala-penegak-hukum
excerpt: Gila bro, uang korupsi Rp 13,25 triliun dipamerkan setinggi dua meter! Tapi
  ujung-ujungnya pelaku utamanya lenyap, cuma 'mandor kelas kakap' yang kesikat. Ini
  namanya negara teater, bukan penegakan hukum!
category: politik
tags:
- korupsi
- politik
- penegakan hukum
- negara teater
- drama publik
source_urls:
- https://www.kompas.id/artikel/pameran-uang-korupsi-versus-politik-mandor
source_names:
- Kompas.id
image_url: https://cdn-dam.kompas.id/images/2026/08/28/01a37246f3921dfcb23a12b1d0621a5c-20260828_Opini_Digital_2.jpg
meta_title: Uang Korupsi Dipamerkan, Pelaku Utama 'Amblas' - Berita Bang Jago
meta_description: Ritual pamer uang korupsi bikin gempar, tapi pelaku utamanya lenyap!
  Bang Jago bongkar drama negara teater ala penegak hukum.
canonical_url: https://berita.media/pameran-uang-korupsi-drama-opera-sabun-ala-penegak-hukum
schema_type: NewsArticle
status: published
created_at: '2026-08-30T05:01:32Z'
published_at: '2026-08-30T05:01:32Z'
---

Astaga naga, dengerin nih! Di tengah riuh rendah perayaan kemerdekaan, eh ada drama baru dari aparat penegak hukum kita. Pameran uang korupsi yang katanya buat nunjukin kinerja pemerintah, malah kayak pertunjukan sirkus beneran. Bayangin aja, tumpukan uang tunai hasil sitaan kasus korupsi dipajang di depan media, lengkap dengan seremoni segala! Nah ini dia, pas Kejaksaan Agung pamer uang sitaan CPO minyak kelapa sawit Rp 13,25 triliun, setinggi dua meter pula, lengkap banget dah ritual simboliknya. Sampai-sampai Presiden Prabowo dan Menteri Keuangan ikut foto bareng, kayak lagi atraksi hiburan abad ini. Sungguh ironis, Kompas.id.

Parahnya lagi, di tahun 2025 ini Kejaksaan Agung tercatat sudah enam kali bikin pameran kayak gini. KPK juga nggak mau kalah, ngikutin jejak yang sama. Alasannya sih katanya buat transparansi dan akuntabilitas publik. Tapi kalau dipikir-pikir, dari sudut pandang kajian budaya, cara-cara simbolis ini bukannya bikin penegakan hukum jadi jelas, malah bikin semuanya jadi penuh citra dan kayak opera sabun murahan. Ini tuh udah jadi kultur panjang sejarah kekuasaan, bro. Yang bikin geram, penanganan kasus korupsi segede ini seringnya cuma nangkep 'mandor', pelaku utamanya entah ke mana amblasnya, atau malah berujung pada keputusan pengadilan yang bikin geleng-geleng kepala. Nah, masyarakat jadi ngikutin di media sosial kayak nonton drama Korea yang penuh suspense, eh tapi dibalas sama komentar sarkas warga net. Celakanya, ini mirip banget sama pengamatan Antropolog Clifford Geertz soal negara teater di abad ke-19. Politik dijalankan cuma buat kekuasaan, bukan buat melayani rakyat, Kompas.id.

Yang paling nyesek dari semua drama pameran uang ini adalah, para penegak hukum kita sering kali tumpul ke atas, tapi tajam ke bawah. Pelaku utama dan jaringan oligarki yang jadi biang keroknya malah lolos entah ke mana. Pameran yang katanya fantastis itu cuma berhasil ngegas 'mandor kelas kakap' doang, alias pelaksana lapangan dari para elite oligarki yang bersembunyi. Sejarah udah nunjukin, kultur elite politik jadi 'mandor' ini emang udah mendarah daging, bagian dari patron dan klien kekuasaan di Indonesia dari zaman Belanda dulu sama VOC. Alhasil, penegakan hukum cuma jadi tontonan visual, bukan solusi nyata pemberantasan korupsi. Selesai.

---
**Sumber:** [Kompas.id](https://www.kompas.id/artikel/pameran-uang-korupsi-versus-politik-mandor)
