---
id: wuho_KIh47UP
cluster_id: SL0wFRZge6-m
title: PARTAI POLITIK RUSAK KUALITAS PILKADA SERENTAK, AKADEMISI BEBERKAN SEMUA!
slug: partai-politik-rusak-kualitas-pilkada-serentak-akademisi-beberkan-semua
excerpt: KPU bilang Pilkada serentak harus berkualitas, tapi ini malah ada akademisi
  yang buka suara. Sahran Raden dari UIN Datokarama Palu blak-blakan soal partai politik
  yang bikin amburadul. Ujung-ujungnya, suara rakyat jadi mainan! Antara News Sulteng
category: politik
tags:
- Pilkada Serentak
- Partai Politik
- Akademisi
- Politik Hukum
- Demokrasi
source_urls:
- https://sulteng.antaranews.com/berita/391227/akademisi-partai-politik-berperan-penting-tentukan-kualitas-pilkada-serentak
source_names:
- ANTARA News Sulteng
image_url: https://cdn.antaranews.com/cache/800x533/2026/08/28/IMG-20260828-WA0012.jpg
meta_title: Peran Partai Politik Rusak Kualitas Pilkada Serentak Versi Akademisi
meta_description: Akademisi UIN Datokarama Palu beberkan peran krusial partai politik
  yang justru merusak kualitas Pilkada serentak. Temukan faktanya di sini!
canonical_url: https://berita.media/partai-politik-rusak-kualitas-pilkada-serentak-akademisi-beberkan-semua
schema_type: NewsArticle
status: published
created_at: '2026-08-29T05:01:11Z'
published_at: '2026-08-29T05:01:11Z'
---

Gila bro, dengerin dulu nih! Rupanya kualitas Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak kita ini ambruk gara-gara siapa lagi kalau bukan partai politik. Sahran Raden, seorang akademisi dari Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu, ngasih tau kita bahwa partai politik ini punya peran krusial, tapi bukannya bikin bagus, malah bikin kacau Pilkada. Nah, ini dia yang bikin geram, kesenjangan antara cita-cita hukum yang luhur dengan kenyataan pahit di lapangan penyelenggaraan Pilkada ini makin lebar. Alhasil, penguatan kelembagaan partai politik jadi kunci utama biar nggak makin parah. Antara News Sulteng

Yang bikin merana lagi, Sahran Raden ini ngomong blak-blakan kalau partai politik punya peran super strategis buat nentuin siapa calon kepala daerah yang bakal naik panggung. Tapi, masalahnya, penguatan partai politik ini nggak cukup cuma jadi peserta pemilu doang. Perlu banget yang namanya kaderisasi yang bener, rekrutmen yang bersih, demokrasi internal yang nggak cuma omong kosong, dan representasi masyarakat yang tulus. Inti dari pergeseran politik buat pencalonan itu adalah memperkuat kualitas demokrasi internal dari partai politik itu sendiri. Parahnya, pandangan kritis ini bukan cuma isapan jempol belaka, tapi udah dituangkan Sahran dalam buku "Tipologi Politik Hukum Pilkada Serentak di Indonesia: Antara Teori dan Praktik, Upaya Mewujudkan Hukum yang Progresif dan Responsif dalam Negara Hukum Demokrasi". Antara News Sulteng

Celakanya, kualitas Pilkada ini ukurannya gampang kok. Kelihatan dari sejauh mana hukum bisa jadi tameng buat suara rakyat, supaya rakyat bener-bener punya dasar pembentukan pemerintahan daerah yang idaman, yang bisa ngasih kesejahteraan dan keadilan. Nah, di situlah ukuran kualitas Pilkada bisa diukur, katanya. Sahran ngasih tau lagi nih, kalau konfigurasi politik yang demokratis itu biasanya ngasih produk hukum yang responsif, tapi kalau politiknya otoriter, ya hukumnya makin represif aja. Dan bukan main, masalahnya justru ada di kesenjangan antara cita-cita luhur hukum dengan praktik di lapangan. Antara News Sulteng

Secara teori, Pilkada itu harusnya jalan tuh dengan demokratis, transparan, akuntabel, serta langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil. Tapi, yang terjadi di lapangan? Sialnya, masih banyak banget persoalan yang bikin pilkada kita babak belur. Mulai dari politik uang yang makin merajalela, oligarki partai politik yang nggak mau kalah, politik dinasti yang bikin geregetan, penyalahgunaan kekuasaan yang bikin muak, ketidaknetralan aparatur negara yang bikin miris, disinformasi yang bikin bingung, konflik kepentingan yang bikin runyam, sampai sengketa pencalonan dan dana kampanye yang nggak ada habisnya. Gilanya, politik dinasti ini jadi salah satu tantangan berat buat sistem meritokrasi. Politik dinasti itu intinya pola reproduksi kekuasaan buat ngasih kesempatan anggota keluarga atau kerabat penguasa buat ngambil atau ngpertahanin jabatan. Antara News Sulteng

Habis sudah harapan kalau kayak gini terus. Ujung-ujungnya, suara rakyat cuma jadi pajangan di TPS, tapi yang berkuasa tetap aja lingkaran itu-itu lagi. Kapan negara kita maju kalau pemimpinnya dipilih lewat cara yang nggak bermoral begini? Jelas ini tragedi demokrasi buat rakyat kecil. Antara News Sulteng

---
**Sumber:** [ANTARA News Sulteng](https://sulteng.antaranews.com/berita/391227/akademisi-partai-politik-berperan-penting-tentukan-kualitas-pilkada-serentak)
