---
id: _F1PkWdlciGu
cluster_id: SxvWiNrcWaYg
title: Pemilu Makin Dekat, Bawaslu Purbalingga Ingatkan Bahaya Uang Pelicin!
slug: pemilu-makin-dekat-bawaslu-purbalingga-ingatkan-bahaya-uang-pelicin
excerpt: 'Belum juga panas-panasnya kampanye, Bawaslu Purbalingga sudah berteriak
  soal politik uang. Para pelajar SMA diajak jadi mata-mata demokrasi, tapi pertanyaannya:
  bakal didengerin nggak suara rakyat kecil?'
category: politik
tags:
- Bawaslu
- Purbalingga
- Pemilu
- Politik Uang
- Pemilih Pemula
- Demokrasi
source_urls:
- https://purbalingga.bawaslu.go.id/berita/bawaslu-purbalingga-tekankan-bahaya-politik-uang-dan-pentingnya-pengawasan-partisipatif-bagi
source_names:
- Bawaslu.go.id
image_url: http://purbalingga.bawaslu.go.id/sites/purbalingga/files/2026-05/DSC_2379.jpg
meta_title: Bawaslu Purbalingga Ingatkan Bahaya Politik Uang ke Pemilih Pemula
meta_description: Bawaslu Purbalingga tekankan bahaya politik uang dan pentingnya
  pengawasan partisipatif bagi pemilih pemula. Generasi muda diajak jaga demokrasi
  dari praktik haram.
canonical_url: https://berita.media/pemilu-makin-dekat-bawaslu-purbalingga-ingatkan-bahaya-uang-pelicin
schema_type: NewsArticle
status: published
created_at: '2026-05-25T08:01:29Z'
published_at: '2026-05-25T08:01:29Z'
---

Ceritanya begini. Di Purbalingga, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Purbalingga merasa perlu 'mengetuk' kesadaran generasi muda soal bahaya politik uang. Kegiatannya? Sosialisasi Pendidikan Politik bagi Pemilih Pemula. Tujuannya, membangun demokrasi yang sehat, berintegritas, dan bebas dari amplop-amplop haram. Bayangkan, para pelajar SMA/SMK/MA sederajat ini dikumpulkan, baik luring maupun daring, mendengarkan ceramah soal demokrasi. Kepala Bakesbangpol Purbalingga, Drs. Much Umar Faozi, M.Kes., sampai bilang momennya pas berdekatan dengan Hari Kebangkitan Nasional. Semangat kebangkitan bangsa, katanya, harus diwujudkan dengan generasi muda yang sadar politik. Bukan cuma slogan, tapi panggilan nyata. Ya iyalah, masa cuma jadi penonton di bilik suara?

Nah ini dia bintang utamanya: Ketua Bawaslu Purbalingga, Misrad, S.E. Dia yang paling getol soal bahaya politik uang dan pentingnya pengawasan partisipatif. Katanya, politik uang itu ancaman serius yang bisa merusak akal sehat pemilih dan berujung pada korupsi. Gila, kan? Memang sih, pemimpin yang baik itu lahir dari pemilu yang jujur. Tapi, apakah para politisi kita sebegitu yakinnya bisa menang tanpa bagi-bagi sembako atau voucher? Misrad mengingatkan, jangan cuma terima uang tunai, sembako, atau voucher yang ujung-ujungnya minta dipilih. Ini bukan soal recehan, ini soal kehancuran nilai demokrasi dan martabat rakyat. Bawaslu Purbalingga | humas

Yang bikin geram, keterbatasan jumlah pengawas pemilu jadi alasan kenapa mereka butuh 'mata-mata' dari kalangan pelajar. Pengawasan pemilu itu tanggung jawab bersama, katanya. Generasi muda diharapkan berani menolak segala bentuk politik uang. Tapi pertanyaannya sekarang, apakah para pelajar ini benar-benar paham konsekuensinya? Atau cuma datang biar dapat sertifikat dan bebas dari pelajaran di sekolah? Kalau cuma diingatkan bahayanya, tapi tidak ada sanksi tegas buat yang bagi-bagi uang, ya sama saja bohong. Nanti pas pemilu, tetap saja ada yang jual suara, ada yang beli suara. Dan ujung-ujungnya, pemimpin yang terpilih bukan yang terbaik, tapi yang paling banyak setor duit. Siapa yang mau disalahkan kalau begitu? Bawaslu Purbalingga | humas

Jadi, meski para petinggi Bawaslu dan Bakesbangpol sudah berteriak soal pentingnya pendidikan politik dan integritas, nasib demokrasi di Purbalingga tetap bergantung pada kesadaran masyarakatnya. Terutama para pemilih pemula yang baru pertama kali mencoblos. Apakah mereka akan jadi pilar demokrasi yang kokoh, atau justru jadi lahan basah bagi para pemburu suara dengan iming-iming uang dan barang? Kita lihat saja nanti. Yang jelas, tugas Bawaslu sudah selesai mengingatkan. Sisanya, ya nasib-nasiban.

---
**Sumber:** [Bawaslu.go.id](https://purbalingga.bawaslu.go.id/berita/bawaslu-purbalingga-tekankan-bahaya-politik-uang-dan-pentingnya-pengawasan-partisipatif-bagi)
