---
id: 8vLk3o7r_0lr
cluster_id: UsR9KP8xAKOW
title: Prabowo 'Ngibrit' Keliling Dunia, Siapa yang Bayar Ongkos Jual Diri Bangsa?
slug: prabowo-ngibrit-keliling-dunia-siapa-yang-bayar-ongkos-jual-diri-bangsa
excerpt: Presiden Prabowo nekat 'ngibrit' keliling dunia, dikritik boros anggaran.
  Tapi kata pengamat, ini 'nyali politik' hadapi abad multipolar, bukan sekadar pamer
  kekayaan. Siap-siap Indonesia jadi 'penonton pasif' kalau cuma kalkulasi receh!
category: politik
tags:
- Prabowo Subianto
- Politik Luar Negeri
- Abad Multipolar
- Kemandirian Strategis
- Anggaran Negara
source_urls:
- https://nasional.kompas.com/read/2026/06/05/11300081/prabowo-dan-politik-keberanian-di-era-multipolar
source_names:
- Kompas.com
image_url: https://asset.kompas.com/crops/UUYw-vFOqKemluraTevjQpvocrk=/0x0:0x0/1200x675/filters:watermark(data/photo/2026/01/30/697c815a5f0b9.png,0,-0,1)/data/photo/2026/06/04/6a20622c2eebb.jpg
meta_title: 'Prabowo Keliling Dunia: Nyali Politik atau Boros Anggaran?'
meta_description: Kunjungan kerja Prabowo ke luar negeri jadi sorotan. Pengamat sebut
  ini 'nyali politik' hadapi abad multipolar, bukan sekadar hitung anggaran. Siapkah
  Indonesia jadi pemain global?
canonical_url: https://berita.media/prabowo-ngibrit-keliling-dunia-siapa-yang-bayar-ongkos-jual-diri-bangsa
schema_type: NewsArticle
status: published
created_at: '2026-06-05T05:02:28Z'
published_at: '2026-06-05T05:02:28Z'
---

Ceritanya begini. Riuh rendah suara sumbang menyeruak di telinga kita. Katanya, Presiden kita ini keranjingan keliling dunia. Tiket pesawat dibabat, anggaran negara dikuras habis — begitulah bisik-bisik tetangga. Pragmatis? Ya, tentu saja. Semua orang pasti bertanya, buat apa sih boros-borosan ke luar negeri? Kompas.com.

Tapi nah ini dia, ada yang bilang ini bukan sekadar jalan-jalan keliling komplek dunia. Para pengamat politik yang otaknya encer nan tajam — bukan kaleng-kaleng — bilang ini soal 'nyali politik'. Di era sekarang, Indonesia tidak bisa lagi cuma jadi pemain figuran yang diam manis di pinggir panggung. Sejarah dunia sedang ditulis ulang, saudara-saudara! Kalau kita cuma duduk manis sambil mainan kalkulator, siap-siap saja jadi penonton pasif. Kompas.com.

Gilanya, mereka bilang ongkos terbesar sebuah negara bukan cuma anggaran yang keluar dari kantong negara. Tapi harga mahal yang harus dibayar kalau kita kehilangan 'momentum' membangun kemandirian strategis. Bayangkan, membangun kedaulatan dan harga diri bangsa di masa depan — itu nilainya jauh melampaui hitungan rupiah hari ini. Jadi, kalau Prabowo rela keluar dari zona nyaman, keluar kocek lebih dalam, itu bukan semata boros. Itu namanya harga yang harus dibayar agar Indonesia tidak jadi bangsa yang tak punya suara di panggung dunia. Kompas.com.

Yang bikin geram, manuver Prabowo ini katanya bukan sekadar diplomasi biasa. Ini cetak biru strategis, saudara-saudara! Menyiapkan Indonesia untuk bernavigasi di tengah abad multipolar yang katanya mulai lahir. Bukan cuma soal banyak pintu yang diketuk, tapi upaya mengunci 'bargaining power' sebelum peta kekuasaan dunia selesai diredistribusi. Ini politik tingkat tinggi, sekaligus momentum historis. Kompas.com.

Dengan makin asertif, Indonesia sedang menegaskan lagi politik luar negeri bebas-aktifnya. Dulu artinya mendayung di antara dua karang. Sekarang? Menavigasi di samudera luas yang dikepung banyak pusat kekuatan baru. Keterlibatan Indonesia dengan berbagai poros kekuatan ini adalah wujud pembangunan kemandirian strategis. Indonesia memilih jalan untuk tidak terikat pada satu blok, tapi tetap punya suara dalam dinamika global. Kompas.com.

Menariknya, ini soal nyali. Kata pemikir realis hubungan internasional, Kenneth Waltz, perubahan konstelasi kekuatan dunia itu memengaruhi orientasi negara. Kalau kita bertahan dengan pola pikir lama, ya siap-siap saja terhambat menghadapi dunia yang terus berubah. Nah, di titik inilah nyali politik Presiden Prabowo diuji. Alih-alih memilih salah satu kekuatan atau menjaga jarak pasif, Indonesia mengadopsi doktrin 'dynamic balancing'. Seni menjaga keseimbangan secara dinamis di tengah gelombang geopolitik dunia. Kompas.com.

Jadi, soal anggaran? Itu urusan belakangan. Yang terpenting, Indonesia tidak boleh jadi negara yang hanya bisa terdiam saat sejarah baru tercipta. Kompas.com.

---
**Sumber:** [Kompas.com](https://nasional.kompas.com/read/2026/06/05/11300081/prabowo-dan-politik-keberanian-di-era-multipolar)
