---
id: eDm25aigwsPF
cluster_id: 7Yb7NoVuwo_c
title: 'PREMAN SENEN ERA 50-AN: BEGINI CARA MEREKA KUASAI JAKARTA'
slug: preman-senen-era-50-an-begini-cara-mereka-kuasai-jakarta
excerpt: Siapa bilang Jakarta baru punya preman sekarang? Jauh di era 1950-an, mereka
  sudah nongkrongin Senen, atur parkir, pungut duit, bahkan punya subkultur kriminal
  sendiri! Majalah Keadilan beberkan semuanya.
category: kriminal
tags:
- preman
- Senen
- Jakarta
- kriminalitas
- sejarah
- 1950an
source_urls:
- https://www.keadilan.id/senen-preman-dan-subkultur-kriminal-jakarta/
source_names:
- MAJALAH KEADILAN
image_url: https://www.keadilan.id/wp-content/uploads/2025/12/IMG-20251216-WA0054-768x771.jpg
meta_title: 'Preman Senen 1950-an: Akar Kriminalitas Jakarta Versi Majalah Keadilan'
meta_description: Terungkap! Cara preman kuasai Senen era 1950-an, terbentuknya subkultur
  kriminal Jakarta. Simak pengakuan Majalah Keadilan yang bikin geleng-geleng!
canonical_url: https://berita.media/preman-senen-era-50-an-begini-cara-mereka-kuasai-jakarta
schema_type: NewsArticle
status: published
created_at: '2026-06-17T23:02:13Z'
published_at: '2026-06-17T23:02:13Z'
---

Gila bro, dengerin nih! Kalau sekarang lu kira preman itu cuma nongkrong di pinggir jalan ngatur parkir doang, salah besar! Di zaman baheula, tahun 1950-an akhir itu, Jakarta udah punya pemain-pemain jalanan yang lebih canggih. Mereka bukan cuma butuh makan, tapi udah punya jaringan, wilayah operasi, bahkan gaya hidup sendiri yang kejam. Nah ini dia, Majalah Keadilan yang nyiarin cerita jadul ini, bilang kalau Jakarta itu pasca-kemerdekaan masuk fase baru kriminalitas. Urbanisasi gila-gilaan bikin kota jadi semrawut, dan celahnya dimanfaatin sama mereka. Habis sudah!

Jakarta waktu itu meledak, Bro! Penduduknya naik drastis, dari cuma sejuta lebih di tahun 1950 jadi hampir tiga juta di awal 1960-an. Nah, Senen ini jadi pusat keramaian yang luar biasa padat. Pasar, terminal, kampung kumuh, semuanya jadi satu. Di situlah kumpul segala macam orang: pedagang, buruh, pengangguran, seniman jalanan, pendatang baru, sampai yang kelakuannya emang udah kriminal. Aparat keamanan waktu itu cuma bisa melongo, nggak sanggup ngatur semuanya. Alhasil, muncul deh kelompok-kelompok 'informal' ini yang lama-lama jadi preman. Mereka ngatur parkir, jadi bekingan pedagang, nagih utang, bahkan jadi penguasa pasar. Dari sinilah cikal bakal subkultur kriminal Jakarta mulai tumbuh subur, Majalah Keadilan.

Parahnya, kawasan Senen ini jadi saksi bisu perkembangan mereka. Sejak zaman Belanda emang udah jadi pusat dagang, tapi setelah merdeka makin menggila aja ramainya. Pendatang membludak, mereka butuh kerjaan, tapi yang banyak malah ketemu sama 'pengatur' macam preman ini. Saking padatnya Senen waktu itu, seperti ditulis Abeyasekere (1989) dan Blackburn (2011), kayak wadah pencampuran segala macam elemen. Makanya nggak heran kalau banyak cerita kejahatan jalanan muncul dari sana. Harian Merdeka dan Indonesia Raya di masa itu sering banget ngelaporin adanya copet yang beraksi di pasar, terminal, dan halte. Laporannya banyak, keluhan masyarakat makin membludak, tapi pengawasan aparat ya gitu-gitu aja, Majalah Keadilan.

Yang bikin geram, nggak cuma copet doang yang berkeliaran. Pencurian ringan, penadahan barang haram, judi, sampai pungutan liar buat pedagang dan penumpang transportasi umum juga marak banget. Celakanya, semua ini terjadi di tengah keramaian yang luar biasa. Kemacetan, kepadatan, dan kurangnya petugas bikin para pelaku kriminal makin leluasa beraksi. Ujung-ujungnya, Senen jadi salah satu 'sarang' kejahatan yang bikin warga resah. Sungguh sebuah era yang bikin geleng-geleng kepala, Majalah Keadilan.

Jadi, jangan salahin generasi sekarang kalau ngomongin premanisme. Akar masalahnya udah ada sejak lama, dan Senen era 1950-an adalah bukti nyata betapa kompleksnya pembentukan subkultur kriminal di Jakarta yang tumbuh pesat. Semua ini tercatat rapi dalam arsip Majalah Keadilan.

---
**Sumber:** [MAJALAH KEADILAN](https://www.keadilan.id/senen-preman-dan-subkultur-kriminal-jakarta/)
