---
id: BUnekJLFRFiN
cluster_id: BXkjWmxeM-XC
title: Program Makan Bergizi Gratis Jadi Ladang Rente, Mahasiswa Ganyang Pemerintah!
slug: program-makan-bergizi-gratis-jadi-ladang-rente-mahasiswa-ganyang-pemerintah
excerpt: Aksi demonstrasi mahasiswa dan koalisi sipil kembali pecah ke jalanan menuntut
  evaluasi total program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pemerintah dituding belum serius,
  bahkan program ini diduga lebih dekat ke praktik bisnis dan rente ketimbang program
  kesejahteraan. Kompas melaporkan.
category: MBG
tags:
- MBG
- Demo Mahasiswa
- Korupsi
- Kesejahteraan Rakyat
source_urls:
- https://nasional.kompas.com/read/2026/07/18/10120061/pembenahan-setengah-hati-managemen-mbg
source_names:
- Kompas.com
image_url: https://asset.kompas.com/crops/wDuxqfCMpnkjTomkQNOBuncGHlQ=/0x0:5568x3712/1200x675/filters:watermark(data/photo/2026/01/30/697c815a5f0b9.png,0,-0,1)/data/photo/2026/04/16/69e010e7e5799.jpg
meta_title: Demo MBG Pecah, Mahasiswa Serukan Evaluasi Total Program!
meta_description: Mahasiswa dan masyarakat sipil kembali turun ke jalan menuntut evaluasi
  Makan Bergizi Gratis (MBG). Ada dugaan kuat program ini jadi ladang rente, bukan
  kesejahteraan rakyat.
canonical_url: https://berita.media/program-makan-bergizi-gratis-jadi-ladang-rente-mahasiswa-ganyang-pemerintah
schema_type: NewsArticle
status: published
created_at: '2026-07-18T05:01:10Z'
published_at: '2026-07-18T05:01:10Z'
---

Gila, bro! Demo mahasiswa dan koalisi masyarakat sipil itu pecah lagi ke jalanan, semua gara-gara manajemen Makan Bergizi Gratis (MBG) yang katanya setengah hati! Ini bukan protes musiman yang gampang ngelupusin perut bareng algoritma berita, tapi pesannya jelas: evaluasi total program ambisius ini! Pemerintah tampaknya belum cukup serius menangani tuntutan pembenahan program yang sudah nyedot ratusan triliun rupiah dari APBN ini. Kompas, 17/7/2026.

Yang bikin mahasiswa ngamuk bukan karena mereka anti sama program sosial, nah ini yang penting! Justru sebaliknya, rakyat tahu betul ada kebutuhan lain yang jauh lebih mendesak dan semestinya jadi prioritas utama anggaran negara. Ketika dana publik dalam jumlah masif digelontorkan tapi manfaatnya nggak kerasa sama sekali di lapangan, kekecewaan itu udah pasti datang. Alhasil, ketika kekecewaan itu nggak direspons memadai, jadilah demo besar-besaran yang bikin pemerintah pontang-panting! Habis sudah kesabaran rakyat!

Parahnya lagi, kekhawatiran paling serius yang berkembang di masyarakat itu adalah kesan kuat bahwa MBG ini lebih dekat ke praktik bisnis dan ladang rente ketimbang program kesejahteraan yang tulus. Celakanya, ini bukan tuduhan ringan yang bisa dibiarkan menggantung tanpa jawaban jelas. Program sebesar ini, yang menyentuh jutaan anak di seluruh pelosok negeri, seharusnya berdiri di atas fondasi transparansi, bukan malah dikelilingi kabut kepentingan para cukong!

Dan bukan main, keberadaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai unit pelaksana teknis di lapangan pun belum berhasil jadi simpul penghubung program negara sama denyut ekonomi lokal. Kenyataannya di lapangan, SPPG ini di banyak daerah nggak kelihatan tersambung ke rantai pasok petani lokal dan pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) setempat. Malah, alih-alih jadi penggerak ekonomi rakyat, SPPG sering tampak jalan sendiri, eksklusif dan tertutup dari dinamika ekonomi lokal yang sejatinya paling berhak diuntungkan dari program ini. Mana ada cerita begini berakhir baik.

Bayangkan potensi yang terlewatkan itu! Jika setiap SPPG diwajibkan menyerap bahan baku dari petani dan pemasok lokal, MBG bukan cuma program gizi, tapi bisa jadi mesin penggerak ekonomi desa dan kawasan! Kehadiran titik SPPG ini diharapkan bisa jadi daya dorong agar petani kecil punya pasar yang terjamin, tapi kenyataannya mana? Semuanya malah berujung jadi bancakan! Kompas.

---
**Sumber:** [Kompas.com](https://nasional.kompas.com/read/2026/07/18/10120061/pembenahan-setengah-hati-managemen-mbg)
