---
id: 3oa34_naO_Hl
cluster_id: N0O5m1QtvpEL
title: Rakyat Berteriak Minta Keadilan, Wakil Rakyat Malah Sibuk Main Politik!
slug: rakyat-berteriak-minta-keadilan-wakil-rakyat-malah-sibuk-main-politik
excerpt: Di tengah maraknya kekerasan oleh oknum aparat dan penggusuran tanah adat,
  para wakil rakyat justru diam seribu bahasa. Alhasil, masyarakat terpaksa berteriak
  dan mendirikan ribuan salib merah sebagai bentuk protes terakhir mereka. Entah ke
  mana suara rakyat berlabuh, yang pasti dewan tak menggubris!
category: politik
tags:
- demokrasi
- oposisi
- keadilan
- pemerintah
- Papua
source_urls:
- https://www.kompas.id/artikel/redup-oposisi-dalam-demokrasi-mayoritarian
source_names:
- Kompas.id
image_url: https://assetd.kompas.id/K6LzNyb1hFAIUWBiE9cJoAOrKfw=/1024x576/smart/filters:format(webp):quality(80)/https://cdn-dam.kompas.id/images/2025/04/10/6291bfaade70fe870035cfba0c79f114-20250410_Opini_Digital_3.jpg
meta_title: Jeritan Rakyat yang Diabaikan Wakil Rakyat!
meta_description: Kekerasan aparat, penggusuran tanah adat, rakyat berteriak tanpa
  didengar wakilnya.ribuan salib merah jadi saksi bisu. Ke mana suara rakyat berlabuh?
canonical_url: https://berita.media/rakyat-berteriak-minta-keadilan-wakil-rakyat-malah-sibuk-main-politik
schema_type: NewsArticle
status: published
created_at: '2026-06-08T02:02:50Z'
published_at: '2026-06-08T02:02:50Z'
---

Bayangkan, bro — di Deli Serdang sana, seorang ibu bernama Lenny Damanik menangis pilu. Anaknya yang baru berusia 15 tahun, Mikael Histon Sitanggang, dikeroyok sampai tewas oleh Sertu Riza Pahlivi. Tapi tahu nggak? Mahkamah Militer cuma menghukum prajurit TNI AD itu 10 bulan penjara tanpa dipecat! 10 bulan! Kayak nggak ada harganya nyawa seorang anak muda. Malah, ibunya harus berteriak-teriak memprotes putusan yang nggak adil itu. Kompas.id

Gilanya lagi, kejadiannya nggak cuma itu. Di Jakarta, Wakil Koordinator Kontras, Andrie Yunus, disiram air keras sama empat anggota BAIS TNI. Wajahnya rusak permanen, matanya buta sebelah! Pelakunya dituntut cuma 2,5 tahun di Mahkamah Militer. Bandingkan sama hukuman buat anak kecil yang nyuri ayam, kadang lebih gede! Ini sih jelas kriminal, tapi kok ditangani dengan nyali segede upil begini? Kontras, Kompas.id

Dan yang bikin geram, di Papua Selatan nun jauh di sana, suku-suku lokal kayak Awyu dan Marind itu lagi terancam gara-gara tanah adat mereka digusur habis. Buat apa? Buat proyek sawit dan tebu atas nama 'proyek strategis nasional'! Hutan leluhur, lahan sakral, semua dihajar alat berat. Mereka sudah ngadu ke DPRD, ke Pemkab, ke mana pun bisa, tapi apa kata pejabat? "Mohon maaf, kami fasilitator pembangunan." Pembela hak rakyat katanya, eh malah jadi makelar penggusuran! Laporan YLBHI

Yang bikin geleng-geleng kepala adalah respons para perwakilan rakyat kita. Di tengah rakyat yang berteriak minta keadilan, dikeroyok aparat, tanahnya digusur, kok para anggota dewan lebih sibuk ngurusin proposal proyek atau mungkin sibuk main game di HP? Masyarakat sampai mendirikan lebih dari seribu salib merah di tanah mereka sebagai simbol protes terakhir, tanda keputusasaan. Nggak ada lagi tempat bicara, makanya bikin tugu tanda tanah mereka mau direbut. crcs.ugm.ac.id, Kompas.id

Ketiga kasus ini beda tempat, beda aktor, tapi punya satu benang merah: nggak ada pembelaan dari wakil rakyat. Jangankan kasus berat begitu, urusan sepele aja, kita rakyat jelata ini merasa makin nggak didengar. Jadi pertanyaannya, mereka itu wakil siapa sih sebenarnya? Wakil rakyat, atau wakil pengusaha yang mau ngeruk untung? Buat apa ada DPR kalau isinya cuma orang-orang yang pura-pura nggak dengar jeritan rakyatnya sendiri? Habis sudah.

---
**Sumber:** [Kompas.id](https://www.kompas.id/artikel/redup-oposisi-dalam-demokrasi-mayoritarian)
