---
id: HXZRJEFbFvQh
cluster_id: QLFuDFLMWeDx
title: Ranking Akademik Bikin Siswa Saling Hajar! Mendikdasmen Ungkap Biang Kerok
  Bullying
slug: ranking-akademik-bikin-siswa-saling-hajar-mendikdasmen-ungkap-biang-kerok-bullying
excerpt: Gila bro! Sistem ranking di sekolah ternyata biang kerok perundungan. Mendikdasmen
  Abdul Mu'ti blak-blakan, persaingan akademis bikin anak didik saling senggol, yang
  lemah jadi sasaran empuk. Parahnya, perbedaan gaya hidup pun ikut memicu rivalitas
  maut. Kompas, detikcom
category: bullying
tags:
- bullying
- pendidikan
- perundungan
- sekolah
- Mendikdasmen
source_urls:
- https://nasional.kompas.com/read/2026/05/25/22342141/mendikdasmen-sistem-ranking-picu-perilaku-perundungan-di-sekolah
- https://www.detik.com/edu/sekolah/d-8504905/mendikdasmen-akui-bullying-masih-terjadi-faktor-gaya-hidup-picu-rivalitas-murid
source_names:
- Kompas.com
- detikcom
image_url: https://asset.kompas.com/crops/joGYtdER15G0sJr6lhiDX3Y2h8Q=/188x0:1340x768/1200x675/filters:watermark(data/photo/2026/01/30/697c815a5f0b9.png,0,-0,1)/data/photo/2026/05/25/6a146ac2eef2f.png
meta_title: Ranking Siswa Pemicu Bullying, Mendikdasmen Ungkap Akar Masalah
meta_description: Mendikdasmen Abdul Mu'ti beberkan sistem ranking akademik dan gaya
  hidup picu perundungan di sekolah. Guru disalahkan karena membandingkan murid. Baca
  selengkapnya!
canonical_url: https://berita.media/ranking-akademik-bikin-siswa-saling-hajar-mendikdasmen-ungkap-biang-kerok-bullying
schema_type: NewsArticle
status: published
created_at: '2026-05-26T08:01:59Z'
published_at: '2026-05-26T08:01:59Z'
---

Ceritanya begini. Belum juga semua sekolah jadi tempat aman dan nyaman buat anak bangsa, eh, eh, eh, udah muncul biang keroknya! Mendikdasmen Abdul Mu'ti gregetan sendiri. Dia bilang, sistem ranking capaian akademik itu POTENSIAL banget bikin anak-anak didik jadi tukang bully. Gilanya, bukan cuma soal nilai, tapi gaya hidup yang sok-sokan pamer strata sosial dan kekayaan juga jadi pemicu. Sekolah bukan tempat buat rebutan gengsi, tapi malah jadi arena pamer! Kompas, detikcom

Parahnya, Mu'ti nggak main-main. Dia bilang, lingkungan fisik dan sosial sekolah seringkali belum aman buat para siswa. Jangankan aman secara fisik, secara sosial dan psikologis aja masih banyak yang bolong. "Karena seringkali kita melihat sekolah-sekolah kita ini secara sosial juga belum cukup aman," cetusnya di seminar Budaya Sekolah Aman dan Nyaman. Nah, ini yang bikin geram! Alhasil, anak-anak yang lemah, yang punya fisik nggak kuat kayak anak berkebutuhan khusus, jadi sasaran empuk buat digebuk. Ditambah lagi, beda penampilan, beda ekonomi, beda nilai ujian — semua jadi alasan buat di-bully. Celakanya lagi, perempuan lebih sering jadi korban, katanya. Oh, sungguh kejam dunia pendidikan kita ini! Detikcom

Dan bukan main, yang paling bikin Mu'ti prihatin adalah mentalitas guru yang masih suka membanding-bandingkan murid. "Yang besar kok nggak bisa, yang kecil aja bisa," celetuknya meniru gaya guru yang memancing permusuhan. Ini namanya mentalitas tukang adu domba, bukan mendidik! Seharusnya, guru itu memuliakan semua murid, nggak peduli nilainya tinggi atau rendah, nggak peduli kaya atau miskin. Semuanya harus dihormati. Nah, Kemendikdasmen coba ubah itu lewat kebijakan deep learning. Tujuannya, mengubah cara pandang murid dan guru soal belajar. Tapi, pertanyaannya, kapan perubahan ini beneran nyampe ke akar rumput? Jangan sampai cuma jadi omongan manis di seminar doang.

Yang bikin miris lagi, selain ranking dan gaya hidup, perundungan juga seringkali bermula dari relasi power. Si kuat menggigit yang lemah. Seringkali, korban itu punya fisik yang lemah, bisa jadi anak berkebutuhan khusus. Atau dia yang secara ekonomi di bawah, kelihatan dari pakaiannya. Atau bahkan cuma karena nilai akademiknya rendah. Jadi, faktornya numpuk, bro! Mau dihindari gimana kalau semua kondisi itu ada di sekolah? Guru juga jadi penyebabnya kalau suka membandingkan murid. Ini bukan soal paham atau tidak paham, tapi soal empati. Detikcom

Habislah sudah, masa depan generasi muda kita terancam kalau nggak segera dibenahi. Sekolah seharusnya jadi tempat yang aman buat tumbuh kembang, bukan malah jadi ladang perundungan. Para guru harus sadar, mereka bukan raja yang bisa seenaknya menghakimi murid. Guru itu panutan! "The way we deliver knowledge itu tidak bisa dilepaskan dari value, tidak bisa dilepaskan dari nilai dan penghormatan yang kita harus memuliakan semua mereka," tegas Mu'ti. Semoga saja, kata-kata ini bukan sekadar slogan kosong belaka. Kompas, Detikcom

---
**Sumber:** [Kompas.com](https://nasional.kompas.com/read/2026/05/25/22342141/mendikdasmen-sistem-ranking-picu-perilaku-perundungan-di-sekolah) · [detikcom](https://www.detik.com/edu/sekolah/d-8504905/mendikdasmen-akui-bullying-masih-terjadi-faktor-gaya-hidup-picu-rivalitas-murid)
