---
id: BTDw3DsQD4wZ
cluster_id: -VzwNmj1Bzge
title: Rapat Bahas Kuota 30 Persen Perempuan, tapi Politik Uang Bikin Caleg Wanita
  Pusing!
slug: rapat-bahas-kuota-30-persen-perempuan-tapi-politik-uang-bikin-caleg-wanita-pusing
excerpt: 'MK bilang kuota 30% caleg perempuan itu wajib. Tapi Ketua DPP PKB Luluk
  Nur Hamidah gregetan: budaya maskulin, ongkos politik gila-gilaan, dan serangan
  digital bikin wanita SUPERWOMAN sebelum berkarya. Mana ada yang kuat kalau begini!'
category: politik
tags:
- caleg perempuan
- politik uang
- PKB
- MK
- Luluk Nur Hamidah
source_urls:
- https://nasional.kompas.com/read/2026/05/29/07090691/budaya-maskulin-hingga-politik-uang-jadi-tantangan-keterwakilan-30-persen
source_names:
- Kompas.com
image_url: https://asset.kompas.com/crops/E9JxlqeWj0-dlhtoh1qsYMVHW8k=/0x0:1599x1066/1200x675/filters:watermark(data/photo/2026/01/30/697c815a5f0b9.png,0,-0,1)/data/photo/2026/05/29/6a18e1f46df82.jpeg
meta_title: 'Caleg Perempuan Hadapi Politik Uang & Budaya Maskulin: Tantangan Berat!'
meta_description: 'Ketua DPP PKB Luluk Nur Hamidah bongkar keras tantangan 30% kuota
  caleg perempuan: budaya maskulin, politik uang gila-gilaan, & serangan digital bikin
  wanita jadi superwoman.'
canonical_url: https://berita.media/rapat-bahas-kuota-30-persen-perempuan-tapi-politik-uang-bikin-caleg-wanita-pusing
schema_type: NewsArticle
status: published
created_at: '2026-05-29T20:02:49Z'
published_at: '2026-05-29T20:02:49Z'
---

Ceritanya begini. Mahkamah Konstitusi (MK) keluarkan jurus jitu, kuota 30 persen caleg perempuan itu wajib hukumnya. Buat sebagian orang, ini angin segar. Buat politisi perempuan yang getol berjuang, ini pembukaan jalan. Tapi jangan senang dulu, ini baru permulaan. Soalnya, Ketua DPP PKB, Luluk Nur Hamidah, langsung buka suara. Kompas.com

Menurut Luluk, aturan kuota 30 persen yang sering cuma jadi pajangan di KTP parpol ini, masih banyak PR. Tantangannya bukan main-main. Budaya maskulin yang masih kental katanya, bikin perempuan susah tembus. Ditambah lagi, politik sekarang itu butuh biaya selangit. Bukan cuma modal nekad, tapi modal duit triliunan. Nah, perempuan kan punya beban domestik dan sosial yang lebih berat, jadi makin tertekan. Gilanya, kalau mau jadi anggota dewan, mereka dipaksa jadi superwoman. Kompas.com

Parahnya lagi, kata Luluk, politik uang sudah jadi hal biasa. Biaya nyaleg membengkak gila-gilaan. Yang punya kapasitas dan integritas jadi mikir dua kali buat nyemplung. Ujung-ujungnya, yang punya duit tebal yang melenggang. Padahal, perempuan berkualitas banyak. Tapi mau bagaimana lagi, kalau modalnya bukan ide tapi amplop tebal. Sialnya, masalah tidak berhenti di situ. Di dunia maya pun perempuan politisi diserang habis-habisan. Serangan personal, body shaming, pelecehan, sampai isu keluarga diungkit demi menundukkan mereka. Belum lagi di lapangan, ancaman fisik dan psikologis menghadang. Kompas.com

Luluk Nur Hamidah menyoroti, perempuan politisi harus jadi superwoman. Tapi kan tidak seharusnya begitu. Beban sosial dan psikologis mereka sudah jauh lebih berat dari laki-laki. Kenapa harus ditambah lagi dengan tekanan yang tidak manusiawi? Ini bukan soal perempuan mau jadi pahlawan, tapi soal kesetaraan dan kesempatan yang adil. Parahnya, dukungan dari parpol dan negara masih sebatas formalitas. Cuma nyomot KTP perempuan biar lolos administrasi. Mana ada komitmen nyata untuk menciptakan ekosistem politik yang aman dan kondusif bagi mereka? Kompas.com

Alhasil, Luluk mendesak parpol dan negara punya komitmen sungguhan. Jangan cuma jadi pemanis. Dana Bantuan Politik (Banpol) dari APBN minimal 30 persen harus dialokasikan khusus untuk kaderisasi, pelatihan kepemimpinan, dan peningkatan kapasitas perempuan. Ini bukan cuma buat perempuan, tapi buat bangsa ini. Kebijakan yang lahir dari parlemen harus inklusif dan benar-benar berpihak pada kepentingan rakyat. Kalau tidak ada perubahan, kuota 30 persen itu cuma akan jadi mimpi di siang bolong. Kompas.com

Selesai. Bayangkan saja, kalau dari awal sudah dibebani macam-macam, bagaimana mau melahirkan kebijakan yang pro-rakyat? Kalau mau jadi wakil rakyat, harus kuat seperti baja, hati-hati seperti malaikat, dan punya uang sebanyak pengusaha kakap. Mana ada ceritanya begitu berakhir baik. Kompas.com

---
**Sumber:** [Kompas.com](https://nasional.kompas.com/read/2026/05/29/07090691/budaya-maskulin-hingga-politik-uang-jadi-tantangan-keterwakilan-30-persen)
