---
id: 5uzps9nxfKRl
cluster_id: bz_wX37FlLSg
title: Rupiah Amblas Dihajar Dolar AS, Ada Apa Gerangan Ini?
slug: rupiah-amblas-dihajar-dolar-as-ada-apa-gerangan-ini
excerpt: Lagi-lagi rupiah kena gebuk dolar AS! Meski ada kabar damai AS-Iran, mata
  uang Garuda malah tipis-tipis melemah ke Rp 17.725, bikin investor was-was soal
  bunga bank sentral global. Parahnya, AS ancam pasang tarif baru ke produk Indonesia,
  bisa makin anjlok!
category: rupiah
tags:
- rupiah
- dolar AS
- ekonomi
- kebijakan moneter
- perang dagang
source_urls:
- https://id.tradingview.com/news/kontan:9def18dbc87ea:0/
- https://finance.detik.com/bursa-dan-valas/d-8532949/2-pemicu-rupiah-gencet-dolar-as-ke-rp-17-700-an
source_names:
- TradingView
- detikFinance
image_url: https://s.tradingview.com/static/images/illustrations/news-story.jpg
meta_title: Rupiah Melemah Lagi, Apa yang Terjadi?
meta_description: Rupiah kembali dihajar dolar AS, investor was-was isu bank sentral
  global dan perang dagang. Ancaman tarif AS bisa bikin ekspor Indonesia makin tertekan.
canonical_url: https://berita.media/rupiah-amblas-dihajar-dolar-as-ada-apa-gerangan-ini
schema_type: NewsArticle
status: published
created_at: '2026-06-16T11:02:50Z'
published_at: '2026-06-16T11:02:50Z'
---

Gila bro, dengerin nih! Rupiah kita kok makin melempem aja nih, dihajar dolar AS lagi! Pasca penutupan perdagangan Selasa (16/6/2026), si "Garuda" harus rela ditutup di angka Rp 17.725 per dolar AS, ambles 0,09% dari sehari sebelumnya. Nah lo, padahal kemarin sempat ada kabar angin segar soal perdamaian AS-Iran, eh malah rupiah yang babak belur. Ada apa gerangan di balik layar ini? "Rupiah spot ditutup pada level Rp 17.725 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Selasa (16/6/2026), melemah 0,09% dibandingkan penutupan pasar Senin kemarin yang ada di Rp 17.709 per dolar AS," begitu laporan dari TradingView.

Alhasil, meskipun ada secercah harapan dari kesepakatan damai AS-Iran yang disebut-sebut bikin harga minyak dunia anjlok dan pasar saham global berjingkrak kegirangan, pelaku pasar rupanya masih super waspada. "Investor menunggu rincian mengenai waktu implementasi perjanjian tersebut karena gencatan senjata permanen masih perlu dinegosiasikan," kata Ibrahim Assuaibi, pengamat mata uang dan komoditas, seperti dikutip TradingView. Jadi, kabar damai itu ternyata cuma bikin pasar tarik napas sebentar, belum bisa bikin rupiah melesat. Gilanya lagi, investor juga lagi nungguin keputusan bank sentral-bank sentral gede nih! Bank Sentral Jepang baru aja naikin suku bunga setinggi langit, sedangkan Bank Sentral Australia malah diem aja. Pusing pala, bro!

Nah ini dia yang bikin geram! Ternyata, ancaman baru datang dari Negeri Paman Sam. Amerika Serikat berencana nempeleng produk-produk Indonesia dengan tarif impor tambahan mulai 24 Juli 2026. "Pemerintah bahkan memperkirakan tarif terhadap produk Indonesia dapat meningkat hingga 18% setelah investigasi terkait kapasitas berlebih (excess capacity) selesai dilakukan," ungkap sumber dari TradingView. Sialnya, ini bisa bikin ekspor manufaktur kita makin tergerus, pabrik sepi, investasi mandek, sampai nganggur makin banyak. Mana ada cerita begini berakhir baik kalau Indonesia terus digempur begitu?

Yang bikin tambah pusing, Bank Indonesia (BI) kemarin sempat berhasil bikin rupiah 'ngegas' sehari sebelumnya, kok sekarang malah ngos-ngosan lagi? Di hari Senin (15/6/2026), rupiah sempat ngangkat banget sampai Rp 17.708, bahkan nyaris tembus Rp 17.673,5 per dolar AS! "Pada perdagangan hari ini utamanya digerakkan oleh faktor global, yaitu tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Pengumuman dibukanya kembali Selat Hormuz ini secara instan meruntuhkan permintaan Dolar AS sebagai aset safe-haven dan menyeret Indeks Dolar (DXY) turun ke area 99.5," jelas Sutopo Widodo, Presiden Komisaris HFX International Berjangka, kepada detikFinance. Tapi ya itu, momentum yang bagus itu malah gak kesal di hari Selasa. Ini bukti kalau nasib rupiah kita masih kayak rollercoaster, naik turun gak jelas! Habis sudah, rupiah dihajar lagi sama dolar AS.

Parahnya, di tengah hiruk pikuk global ini, BI udah naikin suku bunga acuan 75 basis poin sejak Mei buat menahan gempuran dolar. "Tanpa adanya 'benteng' kenaikan suku bunga yang mendahului kurva (ahead of the curve) ini, Rupiah tidak akan memiliki pijakan yang cukup kuat untuk memanfaatkan momentum pelemahan Dolar AS secara maksimal seperti yang kita lihat sejak pembukaan pagi tadi," kata Sutopo Widodo lagi ke detikFinance. Ditambah lagi, kejelasan regulasi soal Devisa Hasil Ekspor (DHE) juga jadi penopang, katanya sih gitu. Tapi lihat aja sekarang, rupiah malah makin terpuruk. Ibrahim Assuaibi bahkan ngarep rupiah bisa nyentuh Rp 17.500 pekan ini, tapi liat kondisi sekarang, mimpi kali ye? Ini bukan cuma soal angka pelemahan, tapi soal harga diri bangsa yang terus menerus digerogoti sama penguatan dolar yang gak berkesudahan. Mana ada negara yang kuat kalau mata uangnya terus-terusan jadi bulan-bulanan! Lampu merah nih buat pemerintah, perlu solusi jitu!

---
**Sumber:** [TradingView](https://id.tradingview.com/news/kontan:9def18dbc87ea:0/) · [detikFinance](https://finance.detik.com/bursa-dan-valas/d-8532949/2-pemicu-rupiah-gencet-dolar-as-ke-rp-17-700-an)
