---
id: fGu8OXC605wy
cluster_id: YsTiQ4cALp4k
title: Rupiah Amblas Rp 18.000, IHSG Keok 35%! Investor Panik Kocok Ulang Aset!
slug: rupiah-amblas-rp-18-000-ihsg-keok-35-investor-panik-kocok-ulang-aset
excerpt: Gilanya, rupiah amblas tembus Rp 18.000 per dolar AS, sementara IHSG nyungsep
  35%! Investor kalang kabut kocok ulang portofolio aset mereka demi bertahan di tengah
  badai finansial ini. TradingView
category: rupiah
tags:
- rupiah
- IHSG
- investasi
- portofolio
- aset
source_urls:
- https://id.tradingview.com/news/kontan:aa8cff23187ea:0/
source_names:
- TradingView
image_url: https://s.tradingview.com/static/images/illustrations/news-story.jpg
meta_title: Rupiah Anjlok, IHSG Amblas! Investor Kocok Ulang Aset!
meta_description: Rupiah tembus Rp 18.000/USD, IHSG nyungsep 35%! Bagaimana investor
  bertahan? Simak strategi kocok ulang portofolio aset Anda!
canonical_url: https://berita.media/rupiah-amblas-rp-18-000-ihsg-keok-35-investor-panik-kocok-ulang-aset
schema_type: NewsArticle
status: published
created_at: '2026-06-07T05:03:14Z'
published_at: '2026-06-07T05:03:14Z'
---

Bayangkan, kita baru saja melewati tahun 2026, dan pasar keuangan Indonesia sudah babak belur! Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dilaporkan terjerembab sedalam 35,3% sejak awal tahun, menyentuh angka menyedihkan 5.594,76. Itu baru di pasar saham, bro! Di pasar valuta asing, rupiannya juga lemas tak berdaya, diperdagangkan di kisaran Rp 18.000 per dolar AS. Gila kan?

Situasi yang bikin keringat dingin ini membuat investor harus bergerak cepat. Chief Investment Officer KIM Indonesia, Barkah Supriadi, blak-blakan bilang kalau meracik ulang portofolio aset itu SANGAT PENTING! Bukan sekadar saran, ini jurus taktis biar gak makin bonyok. Tujuannya? Jelas, untuk mengerem risiko sekaligus nyari celah tambah aset-aset yang fundamentalnya kuat tapi harganya sudah murah meriah. TAA atau Tactical Asset Allocation, itulah kata kuncinya di tengah pasar yang lagi jungkir balik ini. Kim Indonesia

Contohnya gini nih. Investor agresif yang biasanya pasang 60% di saham, 20% di reksadana pendapatan tetap, dan 20% di reksadana pasar uang atau kas, harus mikir ulang. Kalau lihat sinyal koreksi lanjutan di saham, porsi sahamnya harus dipangkas, digeser ke aset yang lebih 'adem' kayak pendapatan tetap atau pasar uang. Ini penting biar kalau pasar saham ambruk, kerugian portofolio gak makin parah. Sekaligus, pasti ada sisa kas buat 'average down' pas momentum pembalikan arah datang. Hemat! Kontan

Nah, di tengah pasar yang lagi 'risk-off' alias pada ngeri-ngeri sedap, pilihan instrumen berisiko rendah sampai moderat itu jadi jurus jitu. Reksadana pasar uang (RDPU) dengan target imbal hasil 4,5%-5% per tahun, atau reksadana pendapatan tetap (RDPT) dengan target 6%-7% per tahun, itu masih realistis banget! Dua instrumen ini menawarkan imbal hasil yang lebih terukur, gak bikin jantung copot gara-gara fluktuasi. Lumayan lah buat jaga-jaga aset. Kontan, Kim Indonesia

Selain itu, kita juga mesti melek sama sentimen global. Ketegangan geopolitik yang belum reda makin diperparah sama inflasi yang mulai menggila. Lihat aja data inflasi Amerika Serikat yang sudah melonjak signifikan! Ini bikin bank sentral AS makin 'keras hati' buat tahan suku bunga tinggi dalam waktu lama. Akibatnya, yield obligasi di sana naik, dolar AS makin perkasa. Otomatis, modal pada ngacir keluar dari negara berkembang kayak Indonesia, balik ke 'aman'nya AS. Ini jelas bikin rupiah kita makin tertekan. Parahnya, ini bikin fenomena capital flight makin kenceng. TradingView, Kontan

Direktur Panin Asset Management, Rudiyanto, juga gak mau kalah ngasih saran: diversifikasi itu wajib! Sebagian aset emang harus ditempatkan di mata uang asing buat jaga-jaga. Ini biar gak nanggung semua risiko kalau rupiah makin anjlok. Panin Asset Management

---
**Sumber:** [TradingView](https://id.tradingview.com/news/kontan:aa8cff23187ea:0/)
