---
id: Mjik9E1wllak
cluster_id: 9RR-rGbpA1jX
title: 'Rupiah AMBYAR Rp 18.000! Pengusaha Menjerit: Terkena Pukulan Ganda Konyol!'
slug: rupiah-ambyar-rp-18-000-pengusaha-menjerit-terkena-pukulan-ganda-konyol
excerpt: Gilanya, rupiah nyaris Rp 18.000! Pengusaha manufaktur teriak kelimpungan
  karena 70% bahan baku impor mendadak mahal. Belum selesai urusan gas naik, eh bayarnya
  pakai dolar juga! Kompas.id
category: rupiah
tags:
- rupiah
- manufaktur
- ekonomi
- pengusaha
source_urls:
- https://www.kompas.id/artikel/pengusaha-rupiah-tembus-rp-18000-kami-terkena-pukulan-ganda
source_names:
- Kompas.id
image_url: https://assetd.kompas.id/bR2UchIeztjLhT9wd8LxOIhprJQ=/1024x683/smart/filters:format(webp):quality(80)/https://cdn-dam.kompas.id/images/2026/04/08/4910e5307c44ebdab91bbdd124d29930-FAK_4177.jpg
meta_title: Rupiah Anjlok Rp 18.000, Pengusaha Manufaktur Pukul Ganda
meta_description: Rupiah terpuruk tembus Rp 18.000! Pengusaha manufaktur menjerit,
  biaya impor membengkak parah. Ditambah lagi harga gas naik dan harus dibayar pakai
  dolar. Nasib industri nasional kian suram.
canonical_url: https://berita.media/rupiah-ambyar-rp-18-000-pengusaha-menjerit-terkena-pukulan-ganda-konyol
schema_type: NewsArticle
status: published
created_at: '2026-06-05T08:02:32Z'
published_at: '2026-06-05T08:02:32Z'
---

Ceritanya begini. Rupiah kita terkapar, nyaris tembus Rp 18.000 per dolar AS, Kamis (4/6/2026). Angka yang bikin bulu kuduk berdiri, bikin pengusaha menjerit. Bayangkan, industri manufaktur nasional kita itu 70 persennya masih ngarep impor buat bahan baku. Nah, kalau rupiah ambruk, otomatis biaya impor melesat gila-gilaan, langsung nyantol di HPP alias Harga Pokok Penjualan. Kompas.id

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta W Kamdani, sampai geleng-geleng kepala. Katanya, ini bukan cuma soal kurs semata. Tapi soal gimana pelemahan rupiah itu merembet ke struktur biaya produksi, biaya pinjaman, margin keuntungan yang tipis, sampai bikin bingung mau ngambil keputusan bisnis apa lagi. Tekanan rupiah ini kan sudah ngerasain dari awal tahun, nah sekarang baru terasa *banget* di sektor riil. Kompas.id

Parahnya, ini bukan cuma soal rupiah. Duit buat logistik, buat energi, buat modal usaha juga masih pada tinggi-tinggi aja. Jadi, yang dihadapi pengusaha bukan cuma satu pukulan, tapi *pukulan berlapis* yang datang dari luar. Udah kayak digebuk dari segala penjuru, tapi tetap harus senyum jualan. Kompas.id

Di sisi lain, Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki), Edy Suyanto, punya cerita yang lebih ngenes lagi. Kenaikan tarif gas bumi tertentu (HGBT) dari 6 dolar AS jadi 7 dolar AS per MMBTU itu aja udah bikin pusing tujuh keliling. Eh, sialnya, pembayaran gas itu juga harus pakai dolar AS. Inilah yang disebut *double squeeze*, kata Edy. Sudah harga gas naik, eh bayarnya pakai dolar yang lagi melemah pula. Ibaratnya, udah jatuh tertimpa tangga pula! Kompas.id

Mana ada cerita begini berakhir baik? Edy Suyanto sampai nanya, kenapa sih bayar gas bumi dari bumi Indonesia ini harus pakai dolar? Transaksi kan di dalam negeri, kok jadi ribet amat. Ini keluhan lama yang terus-terusan disuarakan, tapi entah kenapa nggak didengar telinga pejabat. Kompas.id

Nah ini dia, soal indikator aktivitas industri juga nggak kalah miris. PMI Manufaktur Indonesia bulan Mei 2026 memang naik tipis dari 49,1 ke 50,0. Tapi angka segitu belum bisa bikin lega. Sektor manufaktur kita masih berada di fase yang *sangat menantang*. Ibarat mobil di tanjakan curam, injak gas sedikit, eh malah melorot lagi. Kompas.id

---
**Sumber:** [Kompas.id](https://www.kompas.id/artikel/pengusaha-rupiah-tembus-rp-18000-kami-terkena-pukulan-ganda)
