---
id: 2Swe8qbUgY83
cluster_id: fW7HW9utQGO1
title: Rupiah Babak Belur, Tahu Tempe Tergerus! Menkeu Purbaya Kok Masih Ngomong Ini?
slug: rupiah-babak-belur-tahu-tempe-tergerus-menkeu-purbaya-kok-masih-ngomong-ini
excerpt: Gilanya, nilai tukar rupiah makin ambyar sampai ke pedagang tahu tempe! Purbaya
  Yudhi Sadewa ngakuin, tapi entah kenapa kok bilangnya daya beli masyarakat 'belum
  terlihat melemah'? Ada apa gerangan?
category: rupiah
tags:
- rupiah
- ekonomi
- purbaya yudhi sadewa
- pedagang kecil
- daya beli
source_urls:
- https://money.kompas.com/read/2026/06/08/051000826/purbaya-akui-rupiah-tekan-pedagang-tahu-tempe-tapi-belum-lihat-daya-beli?page=all
source_names:
- Kompas.com
image_url: https://asset.kompas.com/crops/XG4ysVT07lZygfOqsz59LmZFhVI=/0x0:0x0/1200x675/filters:watermark(data/photo/2026/01/30/697c815e7ef28.png,0,-0,1)/data/photo/2026/06/05/6a2285eb9573c.jpg
meta_title: Rupiah Anjlok, Pedagang Tahu Tempe Terjepit! Menkeu Purbaya Jawab Daya
  Beli
meta_description: Rupiah makin babak belur, pedagang tahu tempe menjerit! Menkeu Purbaya
  Yudhi Sadewa mengakui dampaknya tapi malah bilang daya beli 'belum terlihat lemah'.
  Ada apa ini?
canonical_url: https://berita.media/rupiah-babak-belur-tahu-tempe-tergerus-menkeu-purbaya-kok-masih-ngomong-ini
schema_type: NewsArticle
status: published
created_at: '2026-06-08T08:01:55Z'
published_at: '2026-06-08T08:01:55Z'
---

Siang bolong-bolong, tiba-tiba kita dengar berita bikin geleng kepala. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa nyatanya mengakui kalau rupiah yang loyo itu mulai menghajar pedagang kecil, bahkan sampai ke lapak tahu tempe. Bahan baku impor yang makin mahal bikin cost of production mereka naik tajam, alhasil keuntungan makin menipis, terpaksa harga naik. 'Kan saya dengar penjual tempe, penjual tahu sudah tergerus keuntungannya atau terpaksa menaikkan harga karena bahan bakunya masih diimpor. Yang jelas itu akan menaikkan cost of production mereka,' kata Purbaya dalam sebuah kesempatan. Kompas.com

Eh, tapi gilanya, setelah ngakuin itu, Purbaya malah bilang kalau pemerintah 'belum melihat pelemahan daya beli masyarakat secara menyeluruh'. Loh, gimana cerita? Penjual tahu tempe yang keuntungannya tergerus itu apa namanya kalau bukan indikasi pelemahan daya beli? Mana ada rakyat beli tahu tempe kalau kantong lagi tipis? Justru ini yang bikin geram, fakta di lapangan kok dibantah mentah-mentah.

Yang bikin makin heran, Purbaya meminta laporan warteg sepi tidak langsung dijadikan patokan ekonomi. Dia malah bilang, 'Kalau sampel Anda berapa warteg? Saya bisa cari lima warteg yang mungkin jelek, mungkin kalah bersaing, terus pindah ke tempat lain yang lebih bagus.' Katanya, kondisi warteg belum tentu mencerminkan ekonomi nasional. Padahal, penelusuran Kompas.com sendiri menemukan banyak warteg di Jakarta omzetnya anjlok pasca-Idul Fitri, sementara harga pangan terus meroket. Ini bukan isu kecil, ini jutaan rakyat kecil yang makan sehari-hari ngandelin warteg!

Parahnya lagi, Purbaya malah ngomong, 'Tapi kalau data yang lain kan kelihatan yang agregat tumbuhnya kencang semua. Belanja juga tumbuhnya kencang. Retail index itu kan orang belanja betulan.' Wah, Purbaya ini lihat data dari mana sih? Apa jangan-jangan data itu cuma buat pajangan di meja kantor? Sementara di jalanan, rakyat sudah teriak susah cari makan. Ada juga omongan soal perubahan pola konsumsi memilih paket makanan lebih murah, yang kata Purbaya belum tentu karena ekonomi tertekan. Waduh, ini namanya pura-pura tidak tahu, atau memang tidak mau tahu?

Ya gimana tidak dibilang aneh, di satu sisi mengakui rupiah menggerus pedagang kecil, di sisi lain ngeles soal daya beli yang belum terlihat lemah. Ini namanya jurus plintir fakta namanya. Setidaknya, kalau memang sudah tahu ada yang tergerus, berikan solusi nyata, jangan cuma komentar yang bikin rakyat tambah sakit hati. Ini soal perut, bukan soal statistik semata. Kompas.com

---
**Sumber:** [Kompas.com](https://money.kompas.com/read/2026/06/08/051000826/purbaya-akui-rupiah-tekan-pedagang-tahu-tempe-tapi-belum-lihat-daya-beli?page=all)
