---
id: HD4OqmL6cv8n
cluster_id: j_A3O0AlzGhG
title: 'Said Iqbal Ngamuk: Pintu TikTok Akan Dihadang Ratusan Buruh Korban PHK Tokopedia!'
slug: said-iqbal-ngamuk-pintu-tiktok-akan-dihadang-ratusan-buruh-korban-phk-tokopedia
excerpt: Gila bro! TikTok dihajar habis-habisan oleh Said Iqbal dan ribuan buruh!
  Mereka ancam kepung kantor TikTok jika pintu tak dibuka untuk protes PHK massal
  1.250 karyawan Tokopedia. 'Saya berdiri di depan pintu TikTok, pusing amat!' ancam
  Iqbal. Kompas.com
category: phk
tags:
- Said Iqbal
- Partai Buruh
- Tokopedia
- TikTok
- PHK
- Karyawan
source_urls:
- https://megapolitan.kompas.com/read/2026/07/06/13241811/akan-protes-phk-tokopedia-ke-kantor-tiktok-said-iqbal-enggak-dibukain
source_names:
- Kompas.com
image_url: https://asset.kompas.com/crops/OeP9ldABQXuXz_53g3ng2ndCYkU=/0x0:0x0/1200x675/filters:watermark(data/photo/2026/01/30/697c815a5f0b9.png,0,-0,1)/data/photo/2026/07/06/6a4b3d8c85973.jpg
meta_title: Said Iqbal Geram, Ratusan Buruh Akan Kepung Kantor TikTok
meta_description: Presiden Partai Buruh Said Iqbal ancam kepung kantor TikTok di Jakarta
  jika tak buka pintu untuk protes PHK massal 1.250 karyawan Tokopedia. 'Pusing amat!'
  ancamnya.
canonical_url: https://berita.media/said-iqbal-ngamuk-pintu-tiktok-akan-dihadang-ratusan-buruh-korban-phk-tokopedia
schema_type: NewsArticle
status: published
created_at: '2026-07-07T05:02:01Z'
published_at: '2026-07-07T05:02:01Z'
---

Alangkah geramnya! Ribuan buruh bersama Partai Buruh melancarkan aksi nekat mendatangi kantor manajemen TikTok di Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (7/7/2026) ini. Bukan untuk silaturahmi, tapi murni menggugat keputusan PHK massal terhadap 1.250 karyawan Tokopedia yang baru saja diakuisisi. Presiden Partai Buruh, Said Iqbal, dengan lantang menyuarakan protesnya, menuntut pertanggungjawaban penuh dari ByteDance, induk perusahaan TikTok yang kini menguasai 75,01 persen saham e-commerce kebanggaan tanah air itu. "Besok saya mau ke TikTok. Saya enggak peduli diundang, enggak diundang, saya datang," tegasnya usai konferensi pers. Kompas.com

Gilanya, Said Iqbal yang juga Penasihat Khusus Presiden ini mengaku belum menerima secuilpun informasi apalagi undangan diskusi soal PHK yang menimpa ribuan pekerjanya. Tapi bukan orang Partai Buruh namanya kalau mundur! "Kalau enggak dibukain pintu, ya saya berdiri di depan pintu TikTok gitu aja, pusing amat. Yang penting negara harus hadir membela yang di-PHK," ancamnya, seolah tak gentar menghadapi raksasa teknologi global. Ia menekankan, TikTok tidak bisa seenaknya membuang karyawan yang sudah mengabdi bertahun-tahun, apalagi setelah menggelontorkan dana miliaran dolar untuk mengakuisisi Tokopedia. Kompas.com

Parahnya, aksi ini menjadi bukti nyata bahwa TikTok wajib bertanggung jawab penuh atas nasib para pekerjanya. "Tokopedia saat diakuisisi itu mendapat valuasi sekitar Rp 1,5 miliar dolar AS dari TikTok, ke mana uangnya?" seru Iqbal, mempertanyakan aliran dana yang tak sebanding dengan penderitaan 1.250 karyawan yang kini kehilangan pekerjaan. Ia mendesak agar pesangon, upah, dan seluruh hak-hak buruh yang di-PHK harus dibayarkan tuntas. Mana mungkin perusahaan sebesar TikTok membiarkan cerita pilu ini terjadi, membiarkan anak bangsa pontang-panting setelah bertahun-tahun membangun e-commerce terbesar di Indonesia? Kompas.com

Dan bukan main, ancaman Said Iqbal tidak berhenti sampai di situ! Jika tuntutan buruh Tokopedia tidak dipenuhi, ia siap membawa masalah ini ke ranah peradilan buruh internasional. Merujuk pada Konvensi Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) Nomor 193, ia menegaskan bahwa hak pekerja, terutama di era digital ini, harus dilindungi sepenuhnya. Ini bukan sekadar soal PHK biasa, tapi soal martabat dan keberlangsungan hidup manusia yang tak bisa dikorbankan demi keuntungan semata. Ujung-ujungnya, TikTok harus siap menghadapi gempuran para buruh yang menuntut keadilan, siapapun yang berkuasa di negeri ini! Kompas.com

---
**Sumber:** [Kompas.com](https://megapolitan.kompas.com/read/2026/07/06/13241811/akan-protes-phk-tokopedia-ke-kantor-tiktok-said-iqbal-enggak-dibukain)
