---
id: cSMUR3sYxNJs
cluster_id: yFnQC0KRgtvP
title: Sepak Bola Tak Kenal Ampun, PDIP Gasak Tuntas Perbedaan Politik
slug: sepak-bola-tak-kenal-ampun-pdip-gasak-tuntas-perbedaan-politik
excerpt: Ketua Panitia Soekarno Cup 2026, Komarudin Watubun, menyebut sepak bola tidak
  punya agama, suku, atau partai. PDIP pun menggelar turnamen dan mengklaim dapat
  menyatukan perbedaan politik. Kompas.com melaporkan final yang mempertemukan Bali
  dan Jawa Barat.
category: politik
tags:
- PDIP
- Sepak Bola
- Soekarno Cup
- Politik
source_urls:
- https://regional.kompas.com/read/2026/08/25/09310491/pdip-sebut-sepak-bola-sebagai-penyatu-berbagai-perbedaan-termasuk-pandangan
source_names:
- Kompas.com
image_url: https://asset.kompas.com/crops/Zmjn8Ce9Nb9Dztlf6VrObGpJEG8=/0x118:1200x718/1200x675/filters:watermark(data/photo/2026/01/30/697c815a5f0b9.png,0,-0,1)/data/photo/2026/08/25/6a8cfc32b47f5.jpg
meta_title: Sepak Bola Tak Kenal Ampun, PDIP Gasak Perbedaan
meta_description: Komarudin sebut bola tanpa partai, PDIP gelar Soekarno Cup. Final
  Bali vs Jawa Barat, Said Abdullah ingatkan fair play. Simak.
canonical_url: https://berita.media/sepak-bola-tak-kenal-ampun-pdip-gasak-tuntas-perbedaan-politik
schema_type: NewsArticle
status: published
created_at: '2026-08-25T05:12:13Z'
published_at: '2026-08-25T05:12:13Z'
---

Gila, dengarkan ini bro. Ketua Panitia Soekarno Cup 2026 dari PDIP, Komarudin Watubun, dengan berani menyatakan bahwa sepak bola adalah organisasi paling besar yang bisa mempersatukan berbagai kalangan. Ia blak-blakan saat acara di Stadion Gelora Bung Tomo, Senin (24/8/2026): "Bola ini tidak punya agama, tidak punya suku, tidak punya partai." Alhasil, perbedaan pandangan politik dianggap lumer dan tidak berarti saat pertandingan bergulir. Kompas.com mencatat semua pernyataan itu.

Padahal, kalau dipikir-pikir, partai politik justru kerap jadi biang perbedaan. Malah, di banyak tempat, pilkada dan pemilu bisa membuat sekampung panas. Gilanya, PDIP malah mengajak semua orang larut dalam teriakan, dukungan, dan pelukan ala suporter. Komarudin bahkan menegaskan, hanya bola yang mampu menembus perbedaan dari semua sudut pandang. Coba bayangkan, seorang politisi melempar sanjungan setinggi itu kepada olahraga yang sering berakhir dengan kerusuhan suporter. Tetapi ingat, politik tidak pernah benar-benar libur.

Ujung-ujungnya, Soekarno Cup 2026 pun digelar dengan 16 kontingen yang saling mengukur kekuatan, demikian laporan Kompas.com. Finalnya mempertemukan Bali dan Jawa Barat. Ketua DPD PDIP Jawa Timur, MH. Said Abdullah, berpesan tiga hal: jaga persatuan, jaga sportivitas, jaga fair play. Katanya, final ini harus menjadi contoh bagi gelaran sepak bola di tanah air. Parahnya, pesan sportivitas itu datang dari partai yang tak jarang bersitegang dengan partai lain di panggung politik. Tetapi, tak mengapa, yang penting kesannya ingin berdamai.

Seperti halnya diberitakan Kompas.com, Said juga berharap turnamen U-17 ini melahirkan talenta muda yang sudah dilirik untuk masuk ke liga 2 dan liga 3. Banyak pemain muda disebut sedang dipantau ke sana. Nah ini dia, alih-alih menambah ruang bertarung di DPR, PDIP memilih jalan lapangan hijau untuk membangun citra. Dan bukan main, turnamen ini juga jadi tontonan gratis bagi warga sekitar. Sepak bola memang hebat, bisa menimbulkan euforia dan menjebol sekat-sekat politik.

Belum lagi, nama Soekarno disematkan sebagai pamungkas. Ia adalah proklamator yang sejak dulu menggemakan persatuan, bukan perpecahan. Namun, apalah arti sebuah nama ketika pertandingan berjalan ketat dan suporter saling aksi. Turnamen ini justru mengingatkan bahwa persatuan tidak cukup dengan sorak-sorai. Mesti ada kesadaran bahwa perbedaan pandangan politik bukanlah musuh yang harus dibabat. Lagi pula, bola tidak pernah meminta KTP sebelum masuk stadion.

Lah, bagaimana tidak, saat bola ditendang, yang terlihat bukan lagi lambang partai, melainkan jersey kesayangan. Yang terdengar bukan lagi debat kusir, melainkan yel-yel dari tribun. Tetapi jangan lupa, di balik semua itu, partai tetap partai. Mereka boleh bilang bola tidak punya partai, tetapi turnamen ini jelas punya nama: Soekarno Cup, jebolan PDIP. Habis sudah pembelaan. Sepak bola tetap alat, politik adalah pemainnya.

---
**Sumber:** [Kompas.com](https://regional.kompas.com/read/2026/08/25/09310491/pdip-sebut-sepak-bola-sebagai-penyatu-berbagai-perbedaan-termasuk-pandangan)
