---
id: hsRMW_ACH-AR
cluster_id: IJ17-xY2lxaE
title: Simpanan Rupiah Amblas, Likuiditas Bank Terjepit! Ujungnya Bunga Kredit Naik!
slug: simpanan-rupiah-amblas-likuiditas-bank-terjepit-ujungnya-bunga-kredit-naik
excerpt: Uang masyarakat Rp 172,9 triliun kabur dari tabungan rupiah! Dana pindah
  ke instrumen lain yang lebih 'menggiurkan', bikin likuiditas perbankan tertekan.
  Bank pusing, siap-siap naikkan bunga deposito!
category: rupiah
tags:
- ekonomi
- perbankan
- rupiah
- inflasi
- investasi
source_urls:
- https://id.tradingview.com/news/kontan:a6f8f9b9c87ea:0/
source_names:
- TradingView
image_url: https://s.tradingview.com/static/images/illustrations/news-story.jpg
meta_title: Likuiditas Bank Tertekan Akibat Simpanan Rupiah Menyusut Drastis
meta_description: Simpanan rupiah Rp172,9 T amblas dalam sebulan! Likuiditas perbankan
  tertekan, nasabah rebalansing aset. Siap-siap bunga kredit naik!
canonical_url: https://berita.media/simpanan-rupiah-amblas-likuiditas-bank-terjepit-ujungnya-bunga-kredit-naik
schema_type: NewsArticle
status: published
created_at: '2026-06-07T11:01:21Z'
published_at: '2026-06-07T11:01:21Z'
---

Bayangkan — uang tabungan rupiahmu mulai menyusut, seret, alias 'susut'!

Ini bukan isapan jempol belaka. Data dari Bank Indonesia mencatat, per April 2026, dana pihak ketiga (DPK) dalam rupiah tercatat "hanya" Rp 8.100,4 triliun. Angka ini memang masih tumbuh 9,6% secara tahunan. Tapi, nah ini dia, angka ini turun drastis dibanding bulan Maret yang masih Rp 8.208,2 triliun dengan pertumbuhan 11,1% yoy. Artinya apa? Simpanan rupiah amblas Rp 172,9 triliun cuma dalam sebulan! Kocar-kacir![TradingView]

Gilanya lagi, dana dalam valuta asing (valas) malah naik tipis, Rp 1.467,3 triliun atau tumbuh 8,6% yoy. Kenaikan sekitar Rp 29,7 triliun ini menunjukkan perpindahan dana ke mata uang asing bukan faktor dominan. Tapi yang jelas, ini bukan aksi dolarisasi. Ini lebih tepat disebut 'portofolio rebalancing' kata M Rizal Taufikurahman, Kepala Pusat Makroekonomi Indef. Orang-orang mulai pintar, dana ditarik dari yang bunganya rendah, pindah ke yang lebih 'ngejreng'. TradingView

Ini jelas bikin pusing tujuh keliling kepala bank. Likuiditas mereka mulai tertekan, bro! Di tengah ketidakpastian pasar keuangan dan suku bunga yang masih tinggi, dana masyarakat mulai ngelirik instrumen investasi lain. Mulai dari Surat Berharga Negara (SBN), deposito berjangka, reksadana pasar uang, sampai yang paling safest, emas. Gila, kan? Dana segar yang biasanya numpuk di bank, sekarang malah minggat buat cari cuan lebih gede. Indef, TradingView

Parahnya, kalau dana murah alias *current account saving account* (CASA) ikut turun, bank terpaksa harus menaikkan suku bunga deposito mereka. Alhasil, biaya dana (*cost of fund* / CoF) jadi membengkak. Ini yang bikin bank nggak bisa lagi nyalurin kredit dengan bunga yang kompetitif. Pertumbuhan kredit bakal melambat, profitabilitas bank kegencet. Ujung-ujungnya, nasabah yang bakal kena imbasnya. Mau nabung bunganya kecil, mau ngambil kredit bunganya selangit!

Jadi, kata Rizal, bank nggak bisa lagi cuma main-main soal bunga. Mereka harus ubah strategi. Fokus perkuat ekosistem layanan transaksi yang bener-bener ngasih nilai tambah. Perkuat *digital banking*, integrasi layanan pembayaran. Pokoknya bikin nasabah nyaman, biar nggak kabur lagi dananya. TradingView

Kalau tren ini terus berlanjut, jangan salahkan bank kalau nanti bunga deposito naik terus, dan bunga kredit melambung tinggi. Nasabah sekarang makin pinter. Kalau bank nggak inovatif, siap-siap aja dilahap pesaing yang lebih gesit. Akhir cerita, dompet masyarakat juga yang akhirnya kering kerontang.

---
**Sumber:** [TradingView](https://id.tradingview.com/news/kontan:a6f8f9b9c87ea:0/)
