---
id: foWx6xSyDS7S
cluster_id: iVgr4htwELSY
title: 'Sultan: Perbedaan Keniscayaan, Jangan Anggap Paling Benar!'
slug: sultan-perbedaan-keniscayaan-jangan-anggap-paling-benar
excerpt: Ibadah jemaat gereja dibubarkan paksa di Bantul, Sultan HB X angkat bicara.
  Beliau bilang perbedaan itu keniscayaan ciptaan Tuhan, bukan buat merasa paling
  benar sendiri. Tapi kok yang dibubarkan malah ibadahnya ya, Paduka?
category: viral
tags:
- Sultan HB X
- Bantul
- Pembubaran Ibadah
- Toleransi
source_urls:
- https://kumparan.com/kumparannews/respons-sultan-soal-viral-pembubaran-ibadah-jemaat-gereja-di-bantul-27TBSq4QpgU
source_names:
- Kumparan.com
image_url: https://blue.kumparan.com/image/upload/fl_progressive,fl_lossy,f_jpg,q_auto,w_600,h_315,c_fill/g_south,l_og_kumparan_zscykb/co_rgb:ffffff,g_south_west,l_text:Heebo_20_bold:Konten%20Redaksi%20kumparan%0DkumparanNEWS,x_140,y_26/01kc5x3rwq5he7vd5venr39vex.jpg
meta_title: 'Sultan HB X: Perbedaan Keniscayaan, Jangan Merasa Paling Benar!'
meta_description: Gubernur DIY Sri Sultan HB X tanggapi pembubaran ibadah gereja di
  Bantul. Beliau tegaskan perbedaan adalah keniscayaan ciptaan Tuhan.
canonical_url: https://berita.media/sultan-perbedaan-keniscayaan-jangan-anggap-paling-benar
schema_type: NewsArticle
status: published
created_at: '2026-05-26T05:01:44Z'
published_at: '2026-05-26T05:01:44Z'
---

Ceritanya begini. Belum juga warga Bantul selesai mengurus soal sampah, eh ada lagi berita bikin geleng-geleng kepala. Ibadah jemaat Gereja Misi Sejahtera (GMS) di Glugo, Panggungharjo, Sewon, dibubarkan paksa sama sekelompok warga.

Bayangkan — lagi khusyuk berdoa, eh tiba-tiba digeruduk. Diminta pulang. Alhasil, kegiatan ibadah yang seharusnya jadi momen damai malah berakhir ricuh. Pihak gereja terpaksa menghentikan ibadahnya demi menghindari masalah lebih besar. Kumparan.com

Nah, soal kejadian bikin geram ini, Sri Sultan Hamengku Buwono X akhirnya angkat bicara. Sang Raja Keraton Yogyakarta ini bilang, perbedaan itu memang ada dan itu keniscayaan. "Yang namanya manusia itu, perbedaan itu ada tapi tidak memahami, bahwa Allah itu memang menciptakan memang rasnya ya berbeda, agama ya berbeda, asal usulnya juga dari yang berbeda," ucap Sultan di Kepatihan Pemda DIY, Senin (25/5). Pernyataannya ini seolah mengingatkan kita semua untuk tidak merasa paling superior.

Ujung-ujungnya, Sultan menekankan bahwa perbedaan itu adalah ciptaan Tuhan. Makanya, jangan pernah merasa paling benar sendiri. "Jadi sebetulnya perbedaan itu keniscayaan. Memang ciptaannya begitu. Bukan dia (manusia jadi) yang paling benar sendiri. Nggak ada," tegasnya. Beliau juga bilang soal kesadaran dan pemahaman yang perlu dibangun di masyarakat. "Ya masalah kesadaran saja. Pemahaman saja," katanya, lalu menambahkan, "Tapi perlu itu pemahaman begini diajarkan." Kumparan.com

Semua orang tahu Sultan itu bijak. Kata-katanya selalu menyejukkan. Tapi yang jadi pertanyaan — kenapa kok perbedaan yang Sultan bilang keniscayaan itu malah sering jadi alasan orang buat nindas sesama? Di Bantul kemarin, sekelompok warga merasa paling benar sendiri sampai berani membubarkan ibadah orang lain. Pemahaman macam apa yang mereka pegang? Apa 'keniscayaan' itu cuma berlaku buat Sultan tapi bukan buat mereka?

Celakanya, yang dibubarkan itu ibadah. Kebutuhan spiritual. Bukan maling ayam, bukan koruptor. Ini ibadah, tempat orang mencari ketenangan batin. Tapi kok malah digeruduk? Ini bukan soal perbedaan lagi, ini soal pelanggaran hak asasi manusia dasar. Sepertinya 'kesadaran dan pemahaman' yang ditekankan Sultan masih jauh dari kenyataan di lapangan. Kumparan.com

Semoga saja, setelah pernyataan Sultan ini, ada tindakan nyata. Bukan cuma sekadar omongan bijak yang didengar lalu dilupakan. Kita butuh jaminan bahwa perbedaan bukan alasan buat saling menghajar, tapi justru buat saling mengerti. Jangan sampai peristiwa Bantul ini terulang lagi, karena habis sudah kesabaran rakyat kecil yang cuma ingin beribadah dengan tenang.

---
**Sumber:** [Kumparan.com](https://kumparan.com/kumparannews/respons-sultan-soal-viral-pembubaran-ibadah-jemaat-gereja-di-bantul-27TBSq4QpgU)
