---
id: hd9y939J-wwh
cluster_id: TrbBwQHbMDyR
title: Terjebak Politik Uang, Kepala Daerah Digasak KPK Habis-habisan!
slug: terjebak-politik-uang-kepala-daerah-digasak-kpk-habis-habisan
excerpt: Gilanya, biaya politik tinggi saat pilkada terbukti jadi jurus jitu para
  kepala daerah terpilih buat jadi maling! Sembilan kepala daerah langsung amblas
  dicokok KPK sepanjang 2026, ini alasannya terkuak!
category: politik
tags:
- korupsi
- kepala daerah
- pilkada
- politik uang
- KPK
source_urls:
- https://nasional.kompas.com/read/2026/07/06/08250121/pukat-ugm-nilai-biaya-politik-tinggi-jadi-satu-penyebab-kepala-daerah
source_names:
- Kompas.com
image_url: https://asset.kompas.com/crops/CMj4X7g7hDvk74_S27AXE6M6WxI=/0x56:1920x1336/1200x675/filters:watermark(data/photo/2026/01/30/697c815a5f0b9.png,0,-0,1)/data/photo/2026/01/24/6973fd04e0927.png
meta_title: 'Kepala Daerah Korupsi Karena Biaya Politik Tinggi: Pukat UGM Beberkan
  Alasannya'
meta_description: Zaenur Rohman Pukat UGM jelaskan biaya politik tinggi jadi penyebab
  utama kepala daerah terjerat korupsi dan dicokok KPK. Begini akar masalahnya!
canonical_url: https://berita.media/terjebak-politik-uang-kepala-daerah-digasak-kpk-habis-habisan
schema_type: NewsArticle
status: published
created_at: '2026-07-06T17:03:14Z'
published_at: '2026-07-06T17:03:14Z'
---

Gila bro, dengerin dulu nih! Ternyata jurus ampuh para kepala daerah buat jadi maling kelas kakap itu lantaran modal politiknya yang bengkak kayak balon! Ya, Zaenur Rohman, peneliti Pusat Kajian Anti Korupsi Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (Pukat UGM), blak-blakan ngomong, biaya politik yang membubung tinggi saat pemilihan kepala daerah (pilkada) jadi biang kerok utamanya. Alhasil, para kepala daerah yang kesetanan buat balik modal langsung main serok duit rakyat. Kompas.com

Parahnya, Zaenur merinci kalau salah satu pos terbesar yang bikin kepala daerah megap-megap itu ya dari politik uang, alias 'vote buying' atau beli suara. Bukan cuma itu, buat nyalonin diri aja udah disuruh bayar mahal ke partai pengusung, namanya 'kandidasi buying'. Nah, duitnya itu bukan buat bangun daerah, tapi buat ngumpulin modal lagi buat pilkada selanjutnya! Celakanya lagi, Zaenur juga ngakuin, pengawasan dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) itu lemah banget, jadi para koruptor ini makin leluasa beraksi kayak tikus kejepit. Kompas.com

Yang bikin geram, warga juga kerap kali ikut kebawa arus! Mereka bukannya nolak, malah sering kali minta-minta politik uang ke calon. Padahal, mestinya warga yang jadi benteng terakhir buat menghukum kepala daerah yang kerjanya maling rakyat. Nah, pendidikan politik yang kuat buat warga itu jadi kunci, biar mereka sadar dan nggak gampang dibeli pakai amplop berisi recehan pas "serangan fajar". Ya gimana tidak, ujung-ujungnya semua ada di tangan warga! Kompas.com

Dan bukan main, sepanjang tahun 2026 ini saja, sudah sembilan kepala daerah yang nasibnya sama: amblas dicokok KPK lewat Operasi Tangkap Tangan (OTT). Sebut saja, Wali Kota Madiun Maidi, Bupati Pati Sudewo, Bupati Pekalongan Fadia Arafiq, Bupati Rejang Lebong Muhammad Fikri Thobari, Bupati Cilacap Syamsul Aulia Rahman, Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo, Bupati Muara Enim Edison, Bupati Kuantan Singingi (Kuansing) Suhardiman Amby, dan Bupati Langkat Syah Afandin. Sungguh ironis, jabatan bergengsi malah jadi ajang balas budi modal pilkada. Kompas.com

Habis sudah! Para kepala daerah ini bukannya ngurus rakyat, malah sibuk mikirin modal buat nyapres lagi atau mikirin perut sendiri. Sialnya, lembaga pengawas pun terkesan tumpul, membiarkan para tikus berkeliaran bebas. Celakanya lagi, masyarakat kerap jadi korban sekaligus pelaku dengan ikut menerima uang haram. Kapan negara ini mau bersih dari koruptor kelas kakap yang menyengsarakan rakyat kecil? Ini pertanyaan retoris yang bikin geleng-geleng kepala.

---
**Sumber:** [Kompas.com](https://nasional.kompas.com/read/2026/07/06/08250121/pukat-ugm-nilai-biaya-politik-tinggi-jadi-satu-penyebab-kepala-daerah)
