---
id: XWYoZ1Vw4u0z
cluster_id: Me8eip8ctarJ
title: TETAP RANKING, SEKOLAH MALAH JADI ARENA BULLYING! MENDIKDASMEN GERAM BONGKAR
  SEMUA!
slug: tetap-ranking-sekolah-malah-jadi-arena-bullying-mendikdasmen-geram-bongkar-semua
excerpt: Budaya ranking di sekolah ternyata jadi lahan subur perundungan siswa. Mendikdasmen
  Abdul Mu'ti geram, bongkar habis potensi bullying gara-gara anak merasa paling jago.
  Sekolah seharusnya aman, malah jadi arena ejekan dan hinaan!
category: bullying
tags:
- bullying
- pendidikan
- Kemendikdasmen
- ranking sekolah
source_urls:
- https://wartaekonomi.co.id/read613504/mendikdasmen-bongkar-bahaya-ranking-sekolah-bullying-siswa-bisa-muncul-dari-kelas
source_names:
- Warta Ekonomi
image_url: https://foto.wartaekonomi.co.id/files/arsip_foto_2026_05_26/ujian_nasional_040937_small.jpg
meta_title: 'Bahaya Ranking Sekolah: Pemicu Bullying Siswa Dibongkar Mendikdasmen'
meta_description: Mendikdasmen Abdul Mu'ti sorot budaya ranking sekolah yang bisa
  memicu bullying dan menciptakan lingkungan belajar tidak sehat. Intip solusinya!
canonical_url: https://berita.media/tetap-ranking-sekolah-malah-jadi-arena-bullying-mendikdasmen-geram-bongkar-semua
schema_type: NewsArticle
status: published
created_at: '2026-05-28T20:01:45Z'
published_at: '2026-05-28T20:01:45Z'
---

Ceritanya begini. Siapa sangka, sistem ranking yang katanya bikin siswa rajin belajar itu justru jadi biang keladi bullying? Mendikdasmen Abdul Mu'ti angkat bicara, blak-blakan soal bahaya laten ranking di sekolah. Katanya sih, biar siswa semangat. Eh, malah yang terjadi sebaliknya!

Lingkungan sekolah itu seharusnya jadi tempat yang aman buat anak-anak, bukan cuma aman dari ancaman fisik, tapi juga aman dari segala bentuk ejekan dan hinaan. Nah, menurut Pak Abdul Mu'ti, di Gedung A Kemendikdasmen, Jakarta Pusat, Senin kemarin (25/5/2026), budaya ranking inilah yang jadi biang keroknya. Bayangkan saja, kalau ada anak yang nilainya sedikit lebih tinggi, langsung merasa paling jago sedunia dan seenaknya merendahkan teman yang lain. Lah gimana tidak, dia dipuja-puja karena rankingnya bagus, sementara temannya dicaci maki karena nilainya jeblok! Warta Ekonomi.

Parahnya lagi, ini bukan sekadar ejekan biasa, tapi sudah mengarah ke perundungan. Pak Mu'ti kasih contoh gamblang: "Misalnya yang sudah besar tidak bisa mengerjakan soal yang kecil, yang gede kok gak bisa, ini yang kecil aja bisa itu kan tidak sehat." Nah lho! Justru ini yang bikin suasana belajar jadi nggak sehat, penuh persaingan tak sehat dan saling menjatuhkan. Celakanya, ini bisa jadi pintu masuk ke bullying di ruang kelas, bahkan sampai ke lingkungan sekolah.

Karena itu, Kemendikdasmen kini getol dorong perubahan. Bukan lagi soal ranking semata, tapi lebih ke deep learning yang menekankan penghormatan ke semua murid. Pemerintah ingin proses belajar itu fokus ke pemahaman, bukan cuma angka atau nilai yang bikin anak saling sikut. Guru punya peran super penting di sini, katanya. Harus bisa mengubah cara pandang siswa, bikin mereka paham kalau sekolah itu tempat buat tumbuh bareng, bukan jadi ajang pamer kepintaran. "The way we deliver knowledge itu tidak bisa dilepaskan dari value, tidak bisa dilepaskan dari nilai dan penghormatan yang kita harus memuliakan semua mereka," tegasnya. Warta Ekonomi.

Jadi, intinya, pendidikan itu harus mengedepankan saling menghargai. Tidak peduli si A pintar matematika, si B jago olahraga. Semua punya kelebihan. Dengan perubahan pola belajar ini, Kemendikdasmen berharap praktik bullying bisa ditekan. Ujung-ujungnya, sekolah jadi tempat yang beneran aman dan nyaman buat semua anak didik. Bukan lagi jadi arena perang gengsi gara-gara angka di rapor!

---
**Sumber:** [Warta Ekonomi](https://wartaekonomi.co.id/read613504/mendikdasmen-bongkar-bahaya-ranking-sekolah-bullying-siswa-bisa-muncul-dari-kelas)
